Menu

Mode Gelap

Cerpen · 28 Agu 2026 15:25 WIB ·

Pahlawan yang Diremehkan


 Pahlawan yang Diremehkan Perbesar

Namaku Canon, aku adalah seorang pahlawan yang diakui di seluruh desaku. Aku pernah menyelamatkan anak tetanggaku dari monster, di saat aku pulang ke desa, aku diteriaki warga desa sebagai “pahlawan”. Saat aku pulang ke rumah, ibuku memberi sebuah surat yang berisi, 

“Selamat Canon Albert, Anda akan berangkat ke hero akademi di kota besar pada tanggal 13 September 2080, anda harus datang ke hero akademi di kota besar pada hari, tanggal, dan tahun yang sudah tertera. Sekian Terima kasih”. 

“Pak, anak kita akan  masuk ke hero akademi!!”, seru ibunya. 

“Beneran? Syukurlah anak kita akan masuk ke hero akademi.” sahut sang bapak.

“Ibu, hero akademi itu apaan sih?” tanyaku penasaran.

“Hero akademi adalah tempat dimana para pahlawan pemula mengasah kemampuannya masing-masing.” jelas ibuku yang terlihat gembira sambil memperagakan gerakan seorang pahlawan yang sedang bertarung. Keesokan harinya aku mulai berangkat ke hero akademi, sesampainya di sana aku terkejut banyak sekali pahlawan yang datang ke hero akademi. “Sialan, banyak sekali pahlawan yang datang ke hero akademi ini.” bisikku  dalam hatiku

“Hei siapa namamu?”

“Cannon Albert, panggil aku Cannon. Kalau namamu siapa?”

“Tense Noya.”

“Apa kekuatanmu? Sehingga kamu masuk di hero akademi?”

“Kekuatanku adalah bayangan, kalau kamu?”

“Aku tidak bisa mati, dan mengeluarkan senjataku Dark Katana”. 

”Ding dong, saatnya kelas dimulai!!”

Aku segera beranjak masuk ke dalam kelas melihat ada banyak murid yang sudah duduk di kursinya masing-masing, aku melihat-lihat apakah ada kursi yang kosong, ternyata ada kursi yang kosong di samping anak perempuan, aku pun duduk di sana. 

“Siapa namamu?”tanyaku pada perempuan tersebut. 

“Namaku Mizuko Kemeria, panggil saja Mizuko, dan kekuatanku mengendalikan gravitasi, kalau nama dan kekuatanmu apa?”

“Panggil aku Cannon Albert, kekuatanku tidak bisa mati dan mengeluarkan senjataku Dark Katana.

Di saat pelajaran dimulai tiba-tiba aku mengantuk dan tertidur, melihat hal tersebut sontak guruku melempar kapur tepat di dahiku. Aku pun bangun dan terjatuh dari bangku, semua siswa melihatku dengan ekspresi menahan tawa. Aku berdiri dan langsung duduk di bangku dan membuka buku pelajaran kembali. 

“Pfft, hei Cannon kenapa kamu tadi terjatuh?” Mizuko membisikiku.

“Aku tadi di lempar kapur oleh guru, jadinya terjatuh deh, hehe,” balasku pelan.

“Dasar kau, padahal gurunya lagi nerangin malah ditinggal tidur.”

Istirahat pun tiba, aku menuju kantin untuk memanjakan perut yang sudah berisik dari tadi. 

Ahh!!, pesan ramen saja!” Saat ramennya jadi aku melihat-lihat apakah ada meja kosong. Ternyata ada satu di samping Mizuko yang sedang makan di sana.

“Hei Mizuko, kamu memesan apa?” sapaku. 

“Ini nih mie ayam extra pedas lengkap dengan es teh penyegarnya”

 “Kalau kamu pesan apa?”

“Aku pesan ramen dan air putih dingin 1 liter.” 

“Kamu bisa ngehabisin air 1 liter!?” Ia bertanya sambil terkejut, 

“Bisa!! Bahkan aku pernah ikut lomba minum terbanyak akulah juara satu, tapi setelah itu aku pingsan di tempat. Hehe.”. Di saat aku dan mizuko makan, tiba-tiba seorang laki-laki menghampiriku dan mizuko.

”Siapa nama kalian?” Tanyanya.

“Aku Cannon Albert dan ini Mizuko Kameria, panggil saja  kami Cannon dan Mizuko. Kalau namamu?”

“Namaku Izoya Mitsuki, panggil saja aku Izoya, kekuatanku es, kalau kekuatan kalian apa?” 

“Kekuatanku tidak bisa mati, dan mizuko kekuatannya gravitasi“

“Tidak bisa mati?! Itu hal yang biasa, kalau kau tidak bisa mati, kamu bisa melihat bagaimana bumi ini kiamat.“ 

“Tapi, kekuatanku ini punya durasi waktu agak panjang dan aku mempunyai beberapa skill lain.” balasku dengan tersenyum kecil menerima secarik kertas yang diberikannya.

Aku tantang kamu tanding di arena akademi, dan siapa yang kalah yang akan akan mentraktir yang menang. Gimana? Kamu setuju nggak? Aku tunggu di arena akademi besok

dari Izoya Misuki.

“Cannon, beneran kamu mau melawan Izoya? Kelihatannya dia kuat sekali.” Ucap Mizuko ketika tidak yakin kalau aku bisa menang.

“Nggak tau sih? Tergantung besok kalau dia datang, aku akan datang. Kalau aku menang ya,. berarti itu takdirku.” 

Keesokan harinya, aku datang di arena akademi dengan Mizuko. 

“Cannon, kelihatannya kita datang terlalu cepat?” 

“Terlalu cepat gimana? Kita datang kan jam 6 pagi.”

“Kamu sudah datang Cannon, pagi banget kamu datang?” 

“Kamu yang lama datangnya, apa takut ya?” Izoya bilang  

“Ahh!! Sudah! Tidak perlu banyak omong lagi, ayo kita mulai pertarungannya” 

“Siapa takut!!” 

Izoya mengeluarkan skillnya. 

Semburan es!!, fuhhh!!” semburannya mengenai badanku dan sekarang aku tidak bisa bergerak. Aku mengeluarkan skillku “Sayat ibliss!! Scythe devill!!” seketika aku menjadi iblis dia juga mengeluarkan bentuk dari tubuhnya

Selendermen es!!, sword es!!” 

Pertarungan masih berlanjut antara aku dan Izoya. Di arena, semua tempat dipenuhi dengan es dan api. Pertarungan terakhir, aku menggunakan kekuatan terakhirku membuat pedang. Aku berlari berusaha menghajarnya. Tetapi, serangan dari Izoya tepat mengenai dadaku dan tusukanku mengenai perut izoya. 

Seketika izoya tersenyum dan bilang “Kamu sudah kalah, Cannon.” Aku terdiam dan mengeluarkan ultimateku. 

Immortality!! Doru katana!!” teriakku. 

Seketika tubuhku menghitam, mengeluarkan sayap kegelapan, dan mengeluarkan katanaku. Izoya terkejut dan melepaskan tusukan dari dadaku. 

“Tidak, tidak mungkin?! Padahal aku sudah menusuk dadanya!” Izoya terkejut. 

Luka yang ada di dadaku menghilang. Aku balik menyerang Izoya dengan sangat brutal. Luka yang ada di perutnya sudah  dibekukan. Tapi, serangan yang ia lancarkan tidak berpengaruh pada kekuatanku. Dia pun pingsan karena kehabisan tenaga. Akhirnya aku bisa menang dengan kekuatan yang masih aktif.

Akupun pingsan setelah kemenangan. Waktu terbangun aku sudah berada di UKA (Unit Kesehatan Akademik). Selang beberapa menit, Mizuko datang “Cannon! Kamu baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?” Mizuko memelukku erat sambil mengecek seluruh badanku apakah ada yang terluka.

“Tidak ada, karena aku mengelurkan ultimateku yang membuat aku tidak bisa mati.” 

Mizuko mengambil nafas lega,

 “Fyuhh!! Syukurlah tidak ada luka.” aku melihat di kasur yang satunya, yang di atasnya ada Izoya dengan keadaan yang kritis. Melihatnya beraring lemas sontak mulutku berkata, 

“Jangan pernah menantang orang yang kamu anggap lemah di matamu. Karena kamu belum tahu seberapa dahsyatnya kekuatan orang yang kamu anggap lemah itu, kamu harus berfikir sebelum bertindak untuk melawan musuh yang kamu anggap lemah itu.”

Karya: Nur Ilham Malik Ibrahim, Santri Mansajul Ulum

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 23 kali

Baca Lainnya

Surat Terakhir dari Ayah

31 Juli 2026 - 13:16 WIB

Mengeja Ulang Peta Takdir

3 Juli 2026 - 12:57 WIB

Penyakit

5 Juni 2026 - 13:03 WIB

Jaga Alam Kita

8 Mei 2026 - 12:35 WIB

Ibu dan Tiga Kurcaci

10 April 2026 - 09:52 WIB

Perjalanan Pulang di Bulan Suci

13 Maret 2026 - 14:30 WIB

Trending di Cerpen