KOLOM JUMAT CXLVII
Jumat, 3 April 2026
Momentum liburan Ramadhan bagi sebagian santri telah usai. Waktu tersebut merupakan momen yang ditunggu oleh para santri, sebab mereka telah diperbolehkan pulang untuk melepas rindu dengan berkumpul keluarga. Melepas penat setelah melalui padatnya rutinitas mengaji, hafalan, dan kegiatan-kegiatan pesantren lainnya. Liburan memang waktu untuk melepas stress bagi santri dengan merehatkan sejenak otak sembari mengisi ulang energi, menyiapkan amunisi untuk melanjutkan perjuangan tholabul ilmi selanjutnya.
Distraksi Media Sosial
Liburan adalah momen berharga untuk quality time bersama keluarga. Melakukan aktivitas yang belum bisa dilakukan waktu di pondok, seperti menjalankan hobi, bersilaturahmi, dan sebagainya. Namun, niat tersebut terkadang luntur karena sudah terdistraksi oleh dunia digital. Sesampai rumah biasanya hal pertama yang dicari bukanlah hal lain, melainkan gadget. Scrolling media sosial dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, bahkan tak jarang mereka begadang hanya untuk scrolling. Hal ini bukan hanya dapat dialami santri saja, masyarakat umum pun juga bisa terjebak dalam doomscrolling.
Berdasarkan hasil data mini research yang penulis lakukan kepada sembilan belas remaja termasuk santri melalui form kuesioner menunjukkan, kegiatan yang paling banyak dilakukan untuk mengisi liburan adalah istirahat total dan scrolling media sosial. Dalam penelitian ini, penulis menyajikan pilihan durasi antara kurang dari satu jam hingga lima jam lebih. Hasilnya, data tertinggi menunjukkan 42,1% responden scrolling media sosial hingga lima jam lebih.
Sepanjang hari secara tidak sadar mereka telah kehilangan waktu akibat scrolling medsos. Niatnya ingin mengecek notifikasi atau informasi yang sedang update, namun tidak terasa sudah satu jam terlewat, bahkan lebih. Saat sedang mengerjakan tugas pun, kita kerap kali terdistraksi dengan gadget. Atau seperti saat melakukan pekerjaan rumah tangga, niatnya ingin memilih lagu buat penyemangat, tiba-tiba terdistraksi notifikasi. Pola ini seringkali membuat kita terjebak pada doomscrolling. Pekerjaan yang seharusnya bisa selesai lebih cepat menjadi tertunda.
Dampak Negatif Scrolling terhadap Otak
Scrolling media sosial terutama konsumsi terhadap konten pendek bisa mempengaruhi sistem kerja otak kita. Menjadikan sulit konsentrasi, cepat lelah secara mental, hingga bisa menyebabkan stres. Hal ini terbukti dari data mini research yang dilakukan oleh penulis mengatakan bahwa banyak orang yang menyatakan setelah terlalu banyak menggunakan media sosial otak menjadi lelah untuk melakukan kegiatan lain. 72% dari sembilan belas responden mengakui bahwa kemampuan fokus menurun akibat terlalu banyak tenggelam dalam media sosial. Tidak jarang kita menemui orang yang sedang bermain gadget tidak nyambung ketika diajak ngobrol, bahkan tidak sadar kalau sedang dia diajak mengobrol.
Ada semacam perasaan cemas ketika tidak menggunakan media sosial. Fenomena ini disebut nomophobia. Takut tertinggal tren atau FOMO (Fear of Missing Out), sehingga membuat kita terus terjebak dalam scrolling media sosial. Sebelum itu, pernahkah terpikir mengapa kita tidak bisa terlepas dari media sosial? Ini bukan kebetulan. Desain digital media sosial memang sengaja dirancang dengan cara agar membuat kita kecanduan bermain medsos.
Alasan Kognitif Kecanduan Scrolling
Di dalam otak kita terdapat suatu sistem yang membutuhkan imbalan yang disebut dengan reward system. Reward system ini memiliki komponen yang memiliki fungsi untuk mengatur motivasi, suasana hati, hingga memori. Salah satu komponen utamanya adalah dopamin. Dopamin adalah zat yang memiliki fungsi menyampaikan pesan bahagia ke antar saraf melalui jalur dopamin mesolimbik. Zat dopamin ini juga biasa disebut dengan hormon bahagia yang memainkan peran penting dalam reward system. Dimana zat ini mengatur suasana hati, motivasi, dan pengaruh terhadap kognitif.
Setiap kali kita menggulir media sosial, menemukan konten lucu, mendapat like, dan sebagainya, otak kita mendapatkan suntikan dopamin. Namun, rasa senang ini kita dapatkan hanya dalam waktu singkat, tapi membuat kita ketagihan dan menuntut untuk melakukannya secara berulang-ulang. Dalam kesempatan inilah desain platform media sosial mengambil celah.
Media sosial memiliki algoritma adaptif yang menggunakan AI (Artificial Intelligence) untuk menelusuri riwayat interaksi kita di media sosial. mulai dari konten yang kita like, komentari, hingga seberapa lama kita menonton konten tersebut. Algoritma ini kemudian mendorong saran konten baru yang dipersonalisasikan agar kita tidak berhenti menggulir layar.
Media sosial diibaratkan seperti obat-obatan narkoba yang memiliki efek adiksi atau kecanduan. Ia dirancang sedemikian rupa agar pengguna tidak mengetahui konten berikutnya, sehingga ketika pengguna menonton suatu konten akan timbul rasa penasaran dengan konten berikutnya dan memberikan efek adiksi yang membuat pengguna tidak bisa berhenti scrolling. Dan ketahuilah media sosial tidak akan kehabisan konten, dua puluh empat jam perhari konten yang dibagikan media sosial secara praktis dan tak terbatas. Pola ini menimbulkan dampak negatif yang cukup signifikan terhadap kesehatan otak.
Otak yang sudah terlalu banyak terpapar media sosial berisiko mengalami penurunan kognitif. Sulit fokus, mudah cemas, mengurangi kualitas tidur, dan cepat lelah secara mental yang disebabkan stimulasi berlebihan yang bersifat instan. Para ilmuwan menyebut fenomena ini dengan istilah pembusukan otak atau brain rot. Hasil pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging) dari sebuah studi di Korea memperlihatkan perbedaan otak yang tidak terpapar dan yang sudah kecanduan gadget. Terdapat warna merah di beberapa bagian otak yang sudah terpapar gadget, sedangkan yang tidak terpapar warnanya normal. Warna merah di bagian otak tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang sedang scrolling media sosial berjam-jam, otak bekerja secara ekstra keras melampaui batas normal.
Scrolling media sosial, terutama pada konten-konten berdurasi pendek yang tidak berkualitas, menjadi pemicu utama fenomena brain rot. Alasan utama dari hal ini adalah karena konten singkat yang hanya berdurasi belasan detik tersebut tidak memberikan kesempatan otak untuk mencerna informasi secara mendalam. Belum sempat mencerna satu informasi, kita sudah menggulir konten berikutnya dengan topik dan emosi yang berbeda. Perpindahan emosi yang meloncat-loncat secara instan ini bisa sangat melelahkan bagi saraf dan mental. Akibatnya, otak berada dalam mode pindah fokus yang dangkal, sehingga menimbulkan penurunan kemampuan kognitif dan membuat kita merasa sulit konsentrasi di dunia nyata.
Berbeda halnya dengan menonton film atau podcast, otak masih ada kesempatan untuk memproses informasi dari konten tersebut secara utuh. Mungkin muncul pertanyaan, bukankah sekarang banyak konten edukatif yang disajikan dalam format durasi pendek? Kita tetap bisa mendapat informasi dari scrolling. Memang benar tidak semua scrolling itu negatif. Masalah utamanya bukan pada konten apa yang kita konsumsi. Tapi bagaimana cara otak kita dipaksa menerima pesan yang begitu banyak dari konten-konten pendek.
Solusi untuk menghadapi kecanduan ini bukan dengan memusuhi teknologi sepenuhnya, melainkan dengan moderasi. Menurut dr. Lembke, kita bisa mengevaluasi diri kita sendiri dengan 3C. Control, apakah penggunaan kita sudah diluar kendali? Compulsion, apakah kita menggunakannya secara otomatis dan sulit dihentikan? Consequences, apakah ada dampak negatif yang kita rasakan akibat penggunaan tersebut? Jika iya maka solusinya dengan melakukan puasa dopamine atau memberi jeda dalam penggunaan media sosial secara berkala.
Kita bisa mengganti konsumsi konten digital kita dengan kegiatan fisik. Membaca buku, menulis, olahraga atau hobi apapun yang bisa mengalihkan kita dari media sosial. kegiatan ini dapat membantu kita untuk memulihkan otak kita dari kelelahan mental akibat paparan media sosial. Mungkin setelah ini kita bisa membuat semacam eksperimen atau challenge puasa media sosial selama beberapa waktu dan merasakan sensasi setelah itu. Wallahu A’lam.
Oleh: Manggar Eka Rahayu, Redaktur EM-YU.










