Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU dan FKPP Pati menggelar Bahtsul Masail khusus santri putri pada hari Selasa, 20 Oktober 2026 di Ponpes Mansajul Ulum. Penyelanggaraan forum ini secara khusus memberikan ruang bagi santri putri untuk tampil aktif dalam berdiskusi dan berargumen dalam memecahkan problematika hukum Islam.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua RMI PCNU Pati, K.H. Muhammad Liwauudin beserta jajaran pengurus RMI PCNU, KH. Khoirul Asyhar dan Kiai Ladun Khobir sebagai dewan mushohih, serta delegasi dari 25 pondok pesantren se-Kabupaten Pati. Dalam kesempatan bahtsul masail ini santri putri tidak hanya menjadi pendengar, melainkan ikut berperan memberi solusi permasalahan seputar keagamaan dan sosial.
Inisiatif tersebut disambut hangat dan diapresiasi oleh Ibu Nyai Hj. Umdatul Baroroh selaku shohibul bait. Beliau sangat mendukung mengingat forum bahtsul masail yang dikhususkan bagi santri putri seperti ini masih sangat sedikit. Dalam sambutannya, beliau memberikan motivasi kepada para peserta agar tidak perlu takut untuk berpendapat .
“Tidak perlu takut. Mungkin sebagian teman-teman ini merupakan pengalaman pertama, tetapi ini adalah suatu kehormatan bahwa teman-teman bisa menjadi delegasi bahtsul masail. Niatkan untuk belajar. Tingkatkan semangatnya untuk belajar setinggi-tingginya. Jangan takut! Mintalah bimbingan kepada para masyayikh.” jelas Ibu Umdah.
Dukungan senada juga disampaikan KH. Dr. Jamal Ma’mur, M.A, selaku Ketua HSN 2026, saat membuka acara. Beliau menekankan bahwa forum-forum seperti ini harus terus dilestarikan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para santri putri.
“Kalau kita belajar Ta’limul Muta’allim dalam proses belajar, manusia dibagi menjadi tiga kategori, salah satunya adalah insan kamil yaitu man lahu ra’yun wa yusyawir. Jadi jika njenengan sudah memiliki persiapan dan bimbingan, maka wajib untuk menyampaikan pendapat. Dengan begitu akan tumbuh rasa mahabbah terhadap ilmu,” terang Beliau.

Bahtsul masail yang dimoderatori Putri Nadillah ini berjalan dengan penuh khidmat. Para peserta mengkaji berbagai persoalan aktual, salah satunya adalah pembahasan mengenai hukum bullying yang kerap kali terjadi di lingkungan lembaga pendidikan. Delegasi santri putri dari berbagai pondok pesantren se-Kabupaten Pati tampil aktif percaya diri mengutarakan pendapat serta mempertahankan argumen dengan merujuk pada dalil-dalil yang kuat dari kitab kuning. Hal ini mempertegas pentingnya bagi santri untuk melestarikan tradisi tafaqquh fiddin sebagai ciri khas utama pesantren melalui pendalaman kitab kuning warisan ulama.
Reporter: Manggar Eka Rahayu, Redaktur EM-YU










