Alumni psikologi UNNES sekaligus alumni Mansajul Ulum 2018, Ibu Anis Maulida, S.Psi berikan pesan mendalam kepada para santri agar senantiasa mengembangkan potensi sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. “Cintai dirimu, percaya pada kemampuanmu dan jangan takut menjadi diri sendiri. Saat kamu mampu menerima, mencintai, dan menghargai dirimu, maka kamu tidak lagi membutuhkan pengakuan dunia untuk merasa bahagia”, ungkapnya.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Dialog Interaktif yang dihelat oleh Pengurus Pondok Pesantren Mansajul Ulum Putri, Jumat, 24 Agustus 2026. Acara tersebut merupakan upaya para pengurus untuk membangun benteng kewaspadaan dan kesadaran diri para santri akan pentingnya mengelola emosi. Selain itu, maraknya fenomena insecure yang terjadi di kalangan remaja, khususnya generasi-Z menjadi alasan lain. Meski termasuk emosi manusiawi yang wajar namun insecurity merupakan suatu ancaman yang dapat memicu gangguan kesehatan mental.
Dengan mengusung tema “Menjadi Sahabat Terbaik untuk Diri Sendiri: Seni Self love, Self care, & Self Reward”, acara ini dipandu oleh Dyasahrin Khaszahra dan berjalan dengan meriah, penuh perenungan. Melalui video yang disuguhkan oleh pemateri para santri diajak megafirmasi diri serta muhasabah diri.
Dalam pemaparannya, Ibu Salma -panggilan akrabnya- tidak langsung membedah tentang fenomena yang terjadi, namun beliau mengarahkan para santri agar memiliki pola mindset yang baik untuk kesehatan mental. “Dalam self love, perlunya membangun mindset untuk tidak berfokus pada orang lain. Fokus pada diri sendiri, karena itu kunci utama agar prinsip ini dapat berjalan dengan seimbang dan maksimal”, ungkapnya.

Founder forum SETARA tersebut juga menggarisbawahi tentang definisi self reward yang bertolak belakang dengan pemahaman para santri selama ini. Self reward yang dimaksud bukan untuk kesenangan semata, tetapi beliau memberikan batasan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan saat memberikan penghargaan atas pencapaian yang dilakukan. “Batasi nominalnya. Pastikan hadiah bisa meredakan stress, bukan malah menambah beban pikiran”, tegasnya. “Hal ini menjadi penting, sebab bentuk tertinggi dari mencintai diri adalah mengetahui kapan harus beristirahat untuk merawat diri (self-care) dan tidak ragu mengapresiasi setiap perjuangan (self-reward)”, imbuhnya.
Ustazah Durrotul Mahbubah dalam sambutan perwakilan pengasuh turut menegaskan akan pentingnya memahami diri sendiri melalui pengelolaan emosi dalam diri. “Kita harus tenang, damai, dan tau dengan diri sendiri. Memiliki kesadaran terhadap diri sendiri merupakan pilar penting dalam menjalani kehidupan, karena dengan mengetahui karakter pribadi masing-masing, kita jadi lebih bisa mengontrol dan mengkondisikan jika terjadi apa-apa dengan diri kita, terutama mental kita”, tuturnya.
Penulis: Danin Alma Fauziyah, Santri Mansajul Ulum.










