Tim Perpustakaan Putri sukses mengadakan kegiatan Ngaji Buku ke-6 pada Jumat, 11 September 2026. Acara tersebut dihadiri oleh puluhan santri Pondok Pesantren Mansajul Ulum Putri dengan mengangkat buku karya Fahruddin Faiz yang berjudul Menghilang Menemukan Diri Sejati. Bertempat di ruang Perpustakaan As-salamah, acara dimoderatori oleh Nuzulina Nurul Ulya, dengan Ana Fatimatuz Zahro’ sebagai pemantik. Pembawaan materi yang relate dengan kehidupan sehari-hari membuat kegiatan berlangsung menarik dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta.
Dalam pembahasannya, terdapat tiga perspektif utama yang menjadi ruang refleksi dalam memahami diri. Dari perspektif Hindu, pembahasan mengenalkan gagasan tentang atman sebagai konsep diri atau hakikat diri, brahman sebagai realitas tertinggi, Karmaphala sebagai buah atau hasil dari perbuatan, reinkarnasi sebagai kelahiran kembali, serta moksha sebagai pembebasan.
Sementara itu, perspektif Buddha menghadirkan gagasan Anatta, yaitu pandangan tentang tidak adanya diri yang kekal, Dukkha, yaitu penderitaan atau ketidakpuasan yang menjadi bagian dari pengalaman kehidupan, serta Nirvana/Nibbana, yang berkaitan dengan pembebasan dari dukkha dan keterikatan.
Adapun dalam perspektif Islam, pencarian dan pengenalan diri dapat dikaitkan dengan konsep nafs, muhasabah, riyadhatun-nafs atau melatih dan mendidik diri, serta tazkiyatun-nafs atau penyucian diri. Semua itu menjadi bagian dari proses pembinaan diri seorang Muslim dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt.
“Melalui berbagai perspektif tersebut, Fahruddin Faiz mengajak pembaca untuk melihat kembali pertanyaan mendasar tentang diri: siapa sebenarnya kita, apa yang menjadi tujuan hidup, dan ke mana arah kehidupan hendak dibawa,” paparnya. Pembahasan tersebut dapat menjadi ruang refleksi dan muhasabah bagi pembaca dalam proses mengenali diri. “Terkadang, seseorang terlalu sibuk membentuk dirinya sesuai dengan harapan orang lain hingga lupa memahami dirinya sendiri”, terangnya
Kegiatan Ngaji Buku kemudian ditutup dengan pesan reflektif yang mengajak para santri untuk kembali melihat diri, bukan hanya dari penilaian manusia, tetapi juga dari arah, nilai, dan tujuan hidup yang hendak dijalani. “Aku bukan sekadar apa yang terlihat oleh orang lain, bukan pula sekadar peran, status, atau penilaian manusia. Lebih dari itu, aku perlu menemukan arah, nilai, dan tujuan hidup: bagaimana seharusnya aku membawa diri di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala,” pungkas Mbak Nafa.
Reporter: Nadia Zahrotin Nihaya, Santri Mansajul Ulum










