Perpustakaan As Salamah kembali adakan Ngaji Buku pada Kamis, 03 September 2026 untuk santri putra. Acara yang bertempat di ruang perpustakaan tersebut dihadiri lebih dari 50 santrri yang meliputi santri tsanawiyah hingga pasca-aliyah.
Pada edisi yang keempat ini, Ngaji Buku tersebut mengambil pembahasan dari kitab tafsir Rawai’ul Bayan. Alasan dipilihnya kitab tafsir Rawai’ul Bayan ini sebagai rujukan karena kitab ini merupakan tafsir hukum yang tematik dengan peyampaian menarik dan mudah dipahami. “Alasan saya memilih kitab tafsir Rawai’ul Bayan ini karena kitab ini merupakan tafsir hukum yang tematik. Dalam tafsir ini tema-tema hukum sudah dikelompokkan menjadi satu dengan ayat-ayat yang menghimpun satu tema yang sama. Dan metode penyampaiannya itu juga menarik. Karena dari segi penulisannya tafsir Rawai’ul Bayan ini mudah dan ringan untuk dipahami sebagai peminatan yang ingin belajar tafsir,” tutur ustaz Aufa selaku pemantik di acara tersebut.
Adapun tema yang diusung adalah “Poligami dalam Islam”. Tema ini diambil dari Al-Quran surah An-Nisa ayat 1-4. Pada ayat pertama surah An-Nisa mengingatkan bahwa semua umat manusia berasal dari satu jiwa (Adam) dan pasangannya (Hawa). Kita semua adalah saudara dalam kemanusiaan. Oleh karenanya, Islam menekankan untuk melindungi yang lemah, terutama anak yatim. Islam melarang memakan harta anak yatim dalam bentuk apapun ataupun bahkan sampai menzalimi mereka.
Ia menekankan bahwa dari sinilah ayat tentang poligami kemudian bermula. Kaum wanita memiliki kesamaan dengan anak yatim dalam hal kelemahan. Di sisi lain, dahulu seorang anak gadis yatim kerap berada di bawah pengasuhan walinya. Sang wali tergiur oleh harta dan kecantikannya, lalu ingin menikahinya tanpa memberikan mahar yang adil. Oleh karena itu, mereka dilarang melakukan hal tersebut.
Pembina Pondok Putra tersebut juga menjelaskan bahwa adanya poligami bukanlah untuk bersenang-senang, melainkan ada syarat-syarat yang ketat sebelum hal ini diperbolehkan. “Laki-laki diperbolehkan poligami, baik dua, tiga, hingga maksimal empat. Kebolehan ini bukan serta merta, namun ada dengan syarat yang sangat ketat, yaitu adil. Jika takut ataupun khawatir tidak mampu berbuat adil, maka wajib menikah dengan satu istri saja,” jelasnya.
Ia melanjutkan bahwa Islam datang untuk membatasi, bukan memulai poligami. Banyak orang beranggapan keliru, dengan mengira Islam-lah yang mensyariatkan poligami. Dalam sejarahnya, poligami sudah ada bahkan jauh sebelum Islam datang. “Sebelum adanya Islam, seorang laki-laki bisa menikahi lebih dari 1 istri tanpa batas dan tanpa adanya aturan yang jelas. Wanita pada zaman itu sering kali diperlakukan tidak manusiawi. Kala Islam datang, praktik liar ini diatur. Islam memberikan batasan maksimal empat orang istri dan memberikan syarat berupa adanya keadilan. Jadi, bukan mutlak membolehkan, tapi Islam justru mengatur, membatasi, dan mengangkat kembali marwah perempuan,” ungkapnya.
“Ali As-Shabuni dalam tafsir Rawai’ul Bayan-nya menegaskan bahwa poligami bukan sebuah kewajiban, melainkan alternatif dan solusi untuk menyembuhkan penyakit sosial kala itu. Lebih dari itu, poligami adalah solusi untuk menjaga keseimbangan sosial. Coba bayangkan sebuah timbangan. Agar stabil, jumlah laki-laki dan perempuan idealnya seimbang. Namun, bagaimana jika tidak?,” imbuhnya.
Dalam pembahasan kali ini para santri terlihat sangat antusias sekali. Banyak dari mereka saling bertukar pikiran satu sama lain. Salah seorang santri mengungkapkan bahwa poligami merupakan tema yang sangat menarik untuk didiskusikan. “Menurut saya, pembahasan poligami cukup menarik untuk didiskusikan, terutama bagi para santri. Tema ini cukup dekat dengan pembahasan keislaman, tetapi sering kali dipahami dari berbagai sudut pandang.” ungkap Ainun Niam salah seorang peserta di acara tersebut.
“Acara diskusi semalam sangat menarik dan cukup interaktif. Penyampaian materi dan diskusinya membuat peserta lebih aktif untuk menyimak, berpikir, dan ikut menyampaikan pendapat. Harapannya, kegiatan Ngaji Buku ini ke depannya bisa terus dilaksanakan secara rutin dengan menghadirkan tema-tema yang aktual, menarik, dan relevan dengan kehidupan santri,” imbuhnya.
Reporter: Muhammad Sholihul Huda, Redaktur EM-YU










