Pukul enam pagi di Gedung Redaksi The Washington Post[1], di sana seorang pria paru baya terlihat sangat gelisah. Sudah hampir satu jam dia terus berjalan mondar mandir ke arah yang sama di koridor Newsroom. Dari mimik wajahnya, pria itu mengekspresikan perasaan yang sangat khawatir. Baru saja lima menit lalu, ia mendapatkan beberapa sambungan telepon. Namun tidak lama berselang saluran telepon itu terputus setelah terdengar suara senapan dan jeritan yang begitu keras.
Pria itu adalah Pak Levingstone, seorang pimpinan redaksi The Washington Post di Amerika Serikat. Saking gelisahnya pria paruh baya itu, sampai-sampai dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaanya mereportase berita. Padahal di sisi lain, di luar sana terdapat peristiwa hangat yang bisa menaikan traffic dan revenue surat kabarnya. Namun kali ini keputusasaan telah melumpuhkan profesionalismenya “Ya tuhan, apa yang sedang terjadi dengan putriku di sana.” gumanya dalam hati.
Gaza, Palestina
Di bawah reruntuhan bangunan beton di Gaza, Palestina, terlihat seorang perempuan berambut pirang menahan napas. Tanganya terlihat gemetar setelah berhasil mengambil manuskrip rahasia yang ia curi dari brankas zionis Israel. Dia sendiri seakan tidak percaya bahwa salinan manuskrip dan dokumen rahasia Israel ada di genggaman tanganya. Dokumen ini memuat bukti perjanjian dan tujuan invasi Israel ke Palestina. “Semoga dokumen ini bisa segera menyelesaikan perang.” guman perempuan itu dengan penuh harapan. Kemudian ia mendokumentasikan dokumen tersebut ke dalam bentuk drive supaya informasinya bisa tersimpan lebih aman.
Namun nahas, ketika perempuan itu hendak pergi melarikan diri, dari balik jendela bangunan berlantai ternyata ia sudah diintai oleh dua tentara IDF[2]. Seketika dua peluru tembakan pun melesat ke arahnya. Satu tembakan menembus bahu kanan dan satu lainya mengarah perut.
“Ahkh!” Perempuan itu jatuh tersungkur. Tubuhnya terseret di atas debu dan puing-puing. Namun jemarinya yang bersimbah darah berhasil menyelipkan manuskrip tersebut ke dalam kantong khusus di balik rompi pers-nya. Dan dengan seluruh tenaga yang tersisa, perempuan itu mencoba menyembunyikan diri di balik reruntuhan beton bangunan sebelum kesadarannya berangsur hilang.
Dari kejauhan kedua tentara IDF itu seketika tersenyum, karena tembakanya tepat sasaran. Lebih-lebih yang mereka tembak sepertinya adalah anggota pers yang bisa membahayakan misi negaranya. Karena beberapa kali pers sukses mempublish informasi-informasi invasi negaranya ke dunia internasional.
Posko Tim Jusnalis Investigasi the Washington Pont, Gaza.
Sementara itu di balik tenda posko yang berada di luar area invasi Israel, suasananya juga tidak kalah mencengkam. Hamzah dan Sacha, anggota tim The US globe juga terlihat frustasi. Mereka adalah tim Jurnalis Investigasi dari The Washington post yang bertujuan mengusut dugaan pelanggaran hukum aksi invasi Israel. Karena Tim Redaksinya merasa janggal terkait berbagai isu pelanggaran Israel yang sama sekali tidak bisa tersentuh oleh hukum Internasional sedikit pun. Sehingga mereka merasa sangat perlu untuk menginvestigasi kasus besar ini.
Saat ini kedua pemuda itu dibuat pusing lantaran kondisi invasi yang terus meluas. Hal tersebut tentu menahan gerak-gerik timnya untuk melanjutkan misi. Di tambah lagi, mereka tengah kehilangan satu rekanya, Waren yang sudah satu hari penuh tidak kembali ke tenda posko. Tidak ada yang tahu di mana sekarang ia berada.
“Maaf pak, Waren masih belum ditemukan dan saluran GPS pelacaknya juga hilang dari radar.” ucap Hamzah dengan penuh rasa penyesalan lewat saluran telepon. Ia selaku ketua investigasi merasa gagal menjalankan tugas karena tidak bisa menjaga semua rekan kerjanya.
“Baiklah, yang pertama saat ini kita harus tenang terlebih dahulu. Kita doakan yang terbaik untuknya.” ucap Pak Levingstone dengan nada menahan rasa sedih.
“Sebenarnya sebelum sinyal GPS Waren hilang, server redaksi menerima kiriman file terenkripsi dari alamat IP milik Waren. File itu dilindungi algoritma enkripsi dengan pemicu penghancuran otomatis (self-destruct).” ucap Pak Levy (Levingstone)
“Artinya, sebelum Waren benar-benar menghilang, ia masih sempat mengirim informasi penting kepada kita. Namun untuk membuka file tersebut kita hanya punya dua kali kesempatan memasukkan kata kunci. Apabila kita memasukan dua percobaan sandi yang salah, file tersebut akan hancur secara otomatis” jelas Pak Pimred itu kembali.
“Apakah Waren meninggalkan petunjuk sandinya, Pak?” tanya Hamzah cepat.
“Dia meninggalkan sebuah catatan teks terlampir: Sacred Document, dan di bawahnya dua frasa yang bertulis CALL ME &’WAR WILL END SOON’ atau “Panggil aku dan perang akan segera berakhir.”
“Cuma itu?” Kali ini ketiga jurnalis tersebut dibuat pusing lagi dengan pesan singkat terakhir dari temanya yang hilang.
“Ya Tuhan, apa yang dimaksud pesan Waren.” keluh Sacha dalam hati.
Den Haag, Belanda
Sementara itu, di Den Haag. Belanda. Perdana menteri Israel tengah ber-orasi di majelis ICJ (International Court of Justice). Sebuah mahkamah internasional PBB di Belanda yang berfungsi menyelesaikan sengketa hukum antarnegara sesuai hukum internasional. Di sana, Perdana Menteri Israel membantah tudahan bahwa Israel tengah menginvasi Gaza. Karena dia berargumen bahwa negaranya saat ini berposisidifensif atau bertahan. Karena perang ini bermulai dari serangan Hamas ke Israel terlebih dahulu pada 7 Oktober 2023[3]. Oleh karena itu serangan Israel ke Gaza dianggap sebagai bentuk pertahanan atau balasan, bukan agresi yang terstruktur dan terencana. Alasan ini yang sebenarnya membuat petinggi ICJ sampai sekarang belum bisa menghukum tindakan invasi Israel.
Kabar buruknya bagi Palestina, alasan PM Israel itu akan diterima apabila delegasi atau perwakilan Palestina tidak mengajukan banding dalam kurun waktu 24 jam. Sehingga keputusan ini akan membuat agresi Israel ke Palestina dianggap sebagai hal yang diterima. Tentu keputusan itu akan merugikan Palestina yang telah dibombardir zionis bertahun-tahun.
Kembali lagi di kantor Redaksi The Washington post, pak Levy masih menerka apa isi file yang dikirim putrinya, Waren. Serta apa maksud dari pesan bertulis Call me & war will end soon (Panggil aku & perang akan segera berakhir). Padahal kenyatan yang sedang terjadi, kondisi perang di Palestina saat ini semakin lama semakin memburuk. Guman pria tua itu.
Sambungan telepon dari tim Jurnalis The US Globe di Gaza kembali berbunyi, seketika pak Levy mengangkatnya “Pak, kalimat War Will End Soon. Apa mungkin itu adalah paswordnya?” cetus Sacha kepada Pimpinan redaksinya. Karena setelah ia teliti total jumlah kodenya ada empat belas digit. Sehingga kalimat War Will End Soon sangat sesuai untuk dimasukkan ke dalam kolom sandi yang juga berjumlah empat belas tanpa menghitung kalimat “Call me”. Namun semua jurnalis tidak ingin gegabah. Mereka masih mendiskusikan ulang usulan-usulan yang ada.
***
Sedangkan diluar tenda posko Hamzah dan Sacha, perang masih terus berlanjut. Korban jiwa terus berjatuhan. Tidak ada yang tahu kapan perseteruan ini akan berakhir. Namun yang pasti, saat ini para petinggi Israel sudah tidak sabar untuk segera mewujudkan cita-cita mereka. Yaitu merebut tanah yang dijanjikan El[4] kepada bangsa mereka. Oleh karena itu, hari ini mereka tengah merencanakan aksi besar-besaran untuk mengosongkan area Palestina. Yaitu dengan melancarkan aksi genosida.
Di Mustashfa Al-Indunsi[5], pasien dari Masyarakat sipil Gaza terus berdatangan. Sedangkan pasokan tenaga medis sangat terbatas. Keadaan ini membuat sisi tenaga medis kewalahan. Tetapi untungnya, pagi ini ada bantuan datang dari HEAL Palestine, sebuah organisasi nirlaba yang beroperasi dalam bidang kesehatan dan pendidikan global. Saat ini mereka tengah bertugas membantu korban akibat peperangan Israel-Palestina.
Dr. Gita, salah-satu relawan medis asal Indonesia di sana sampai kewalahan menangani pasien yang terus berdatangan. Berkali-kali dia harus menyapu keringat yang ada di dahi. Saat ini dia tengah mencoba mengeluarkan peluru dari perut pasienya. “Ya Tuhan, kasihan sekali perempuan ini.” ucap Dr. Gita dalam hati. Ia terlihat iba melihat pasienya yang sekarat. Seorang gadis muda yang terkena dua tembakan pada bagian bahu kanan dan perut.
“Sepertinya pasien ini adalah anggota pers, Bu.” ucap perawat yang membantu Dr. Gita di sebelahnya
“Oh ya?” sahut Dr. Gita dengan terkejut.
“Pasien ini bernama Waren. Dia tadi ditemukan petugas relawan di area peperangan, dan tadi saya sempat dapati kartu identitasnya. Sepertinya dia adalah anggota jurnalis Amerika.” jelas perawat tadi.
Kemudian di saat Dr. Gita dan Tim medis hendak membuka pakaian pasien untuk operasi pengeluaran peluru, mereka terkejut ternyata di balik rompi Pers-pasien masih tersimpan lampiran manuskrip dan voice recorder yang tercampur dengan darah. Dr. Gita pun mengambil barang-barang tersebut terlebih dahulu. Hingga kemudian pembiusan total pun bekerja penuh. Dr. gita dengan cepat meneruskan operasi pengeluaran peluru sebelum nanti keadaan pasienya semakin parah.
***
Di Gedung The Washington Post, Pak Levy masih berdiskusi dengan anak buahnya. Yaitu tim jurnalis The US Globe yang bertugas di Palestina. Mereka berdiskusi lewat saluran telepon sambil mencoba menerka kode password file yang dikirim Waren.
Setelah berjam-jam diskusi, akhirnya mereka semua sepakat dengan usulan Sacha sebelumnya. Yaitu membuka file dengan kode sandi War Will End Soon yang sempat dilampirkan Waren. Hamzah pun menatap layar monitor laptopnya yang menampilkan kotak dialog sandi: ENTER PASSPHRASE (MAX 2 TRIES LEFT)[6] kemudian ia pun mencoba memasukan huruf satu per satu dengan sangat hati-hati. Karena ia sadar bahwa maksimal percobaan kode passwordnya hanya dua kali trial. Jika dua kali salah, File berisi informasi penting dari Waren itu akan hilang selamanya.
Kemudian tidak lama setelah Hamzah menekan tombol enter, layar berkedip merah “INCORRECT PASWORD. WARNING: 1 ATTEMPT REMAINING. ALL DATA WILL BE PERMANENTLY ERASED ON FAILURE”[7] melihat notif tersebut seketika seluruh ruangan hening, terdiam, dan semua jurnalis The Washington merasa lemas. Karena password yang mereka masukan salah total. Sekarang kesempatan mereka kali ini tinggal satu kali.
***
Di saat yang sama, deadline pengesahan banding dari Israel tinggal lima jam lagi. Hakim ICJ akan segera memutuskan pengesahan penyerangan Israel apabila tidak ada banding dari pihak Palestina. Sehingga kondisi tersebut memicu PM Israel agar aksi genosida segera dilakukan lebih dini.
Di wilayah Gaza bagian timur. Semua tank dan senjata lainya dikerahkan ke medan yang ingin dikuasai. PM Israel, menginstrusikan bahwa maksimal pukul lima sore, wilayah Gaza bagian timur sudah harus dilumpuhkan. Di mana itu adalah tempat posko pers dan tenda-tenda organisasi nirlaba berada. Seperti tenda posko The Washington Post, HEAL Palestine dan berbagai organisasi lainya. Sepertinya strategi Israel kali ini adalah melumpuhkan pers dan tim pemasok bantuan agar aksi genosidanya tidak tercium dunia Internasional.
Untuk pembukaan agresi, beberapa rudal balistik mulai diluncurkan. Sasarannya adalah posko The Washington Post, Heal Palestine dan Mustashfa Al-Indunisi di Gaza. Di mana itu adalah tempat Hamzah dan Sacha bertugas. Dentuman keras mulai berbunyi satu persatu. Hanya dalam beberapa hitungan detik, semua bangunan tersebut hancur lebur dan merata. Entah apakah ada yang selamat atau tidak dari serangan dadakan tesebut. Tetapi yang pasti serangan itu sangat dahsyat.
***
Di ruangan Newsroom Pak Levy terlihat kembali gelisah di depan layar monitor komputernya, karena tiba-tiba saluran telepon dari Hamzah dan Sacha di Gaza terputus total. Mereka berdua sama sekali tidak bisa dihubungi. Dan hal menghawatirkanya, sebelum saluran telepon mereka terputus, terdengar kembali suara tembakan, ledakan, dan jerit ketakutan luar biasa dari balik telepon.
Pria tua itu pun kembali tertekan karena menghawatirkan kondisi timnya yang ada di Gaza. Di mana keadaannya semakin lama semakin memburuk. Bahkan informasi terkini ternyata Israel tengah berupaya meng-ekspansi wilayah baru di sisi timur Gaza. Di saat yang sama putrinya yang ikut misi investigasi tersebut juga tidak kunjung ditemukan. Kemudian Pak Levy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil merenungi, betapa mengenaskan dirinya.
Satu jam dalam renungan kenestapaan, tiba-tiba telepon pribadi Pak Levy kembali berbunyi,
“Halo Pak, ini Hamzah. Sekarang Sacha sudah meninggal, Pak.” ucap Hamzah dengan tangis dan suara terbata-bata. Ternyata dari agresi Israel barusan, hanya Hamzah dan Dr. Gita yang berhasil kabur dan selamat dari serangan Israel.
“Tetapi saya mendapatkan berita penting lain, Pak. Saya mendapatkan informasi dari Dr. Gita salah satu anggota medis menginformasikan bahwa Waren, putri anda sudah meninggal di Mustashfa Al-Indunisi akibat serangan tembakan tentara IDF. Tetapi Dr. Gita juga mengatakan kepada saya bahwa sebelum Waren dioperasi Dr. Gita menemukan voice recorder milik Waren yang masih hidup. Mereka tidak sengaja mendapatkan pesan terakhir dari Waren bahwasnya terdapat file penting untuk Tim The Washington yang sandinya berbentuk nama.” Imbuh Hamzah.
Mendengar pesan Hamzah barusan, seketika hati Pak Levy langsung hancur mendengar ucapan putrinya yang sudah tiada. Tetapi pak tua itu paham apa maksud pesan Hamzah. Sepertinya pesan dari putrinya itu adalah kalimat yang harus disusun ulang hingga menjadi sebuah nama. Dalam artian password yang berbentuk anagram. Kemudian pria itu melihat kembali pesan yang ditulis Waren: Sacred Document, dan di bawahnya bertulis ‘Call me & War will end soon’.
“Kalau ini adalah anagram, apa persamaan atau kata lain dari kalimat ini?” bisik Pak Levy.
Kemudian ada seorang anak magang di sebelah Pak Levy yang kebetulan tidak sengaja mendengar percakapan barusan. Ia pun menyela obrolan Levy dan Hamzah “Maaf, Pak, sepertinya saya tahu maksudnya.” ucap Lee, dia adalah seorang mahasiswa Tsinghua University yang tengah melaksanakan program internship di The Washington Post. Kebetulan dia adalah mahasiswa double major, Kriptografi dan Jurnalistik. Tentu dia tidak asing lagi dengan istilah anagram.
“Apa maksud mu?” sahut Pak Levy dengan rasa skeptis.
“Pesan dari Waren, ‘Call me & war will end soon’ secara leterlek kalimat tersebut sepertinya menyebutkan bahwa isi dokumen ini bisa menyelesaikan perang.” Cetus Lee
“Tetapi secara password kalimat itu adalah permutasi huruf, sebuah Anagram!” jelas Lee.
“Jadi apa persamaan kata lainya?” sahut Hamzah dari balik telepon.
“Lihat komposisi hurufnya,” kata Lee sambil mengetik cepat di papan ketik.
“WAR WILL END SOON terdiri dari 14 huruf: W-A-R-W-I-L-L-E-N-D-S-O-O-N. Jika kita menyusun ulang huruf-huruf tersebut secara presisi, frasa itu membentuk nama lengkap putri Anda pak, dan variasi ejaannya adalah WAREN WILLDSOON!” Lee menunjukkan hasil analisis frekuensi karakter di layar monitor: W-A-R-E-N (5 huruf) W-I-L-L-D-S-O-O-N (9 huruf) Total tepat 14 huruf tanpa sisa.
“Indikator saya merubah kalimat War Will End Soon ke nama putri anda tentu bukan kebetulan, Pak. Tetapi di pesan kalimat sebelumnya ada frasa “CALL ME/Panggil aku”. Sehingga frasa ini merujuk kepada sebuah nama pemilik pesan. Jadi sepertinya ini cocok untuk dijadikan password.” Jelas Lee dengan yakin.
Setelah itu Pak Levy dan Hamzah setuju dengan ide Lee. Kemudian Lee izin mencoba memasukan kata Waren Willdsoon ke dalam password. Satu persatu huruf ia masukan, dan klik tombol enter. Layar monitor berubah hijau: ACCESS GRANTED. DECRYPTING FILE.[8] Setelah itu layer monitor menampilkan halaman baru berisi manuskrip kuno Theodor Herzl. Dia adalah inisiator Yahudi yang menginginkan kelompoknya memiliki negara sendiri. Yaitu negara Israel. Usahanya itu sudah ia rancang secara detil sejak era Imperium Turki Ustmani.
Seketika Pak Levy membaca manuskrip itu dengan seksama. Halaman demi halaman mulai terbaca. Kemudian ia tampak sangat terkejut atas informasi rahasia yang ia peroleh. Ternyata aksi invasi Israel ke Palestina itu bukan didasarkan kepada pembelaan. Melainkan karena misi suci dan tujuan penguasaan.
Dalam manuskrip itu dijelaskan bahwa Nabi Jacob[9] pernah bermimpi bertemu dengan Tuhannya. Dalam mimpi itu Allah berfirman “Bumi Muqaddas ini dijanjikan untukmu dan keturunanmu, serta diberkahi untukmu.”[10]
Berdasarkan narasi inilah bangsa Israel memaknai wilayah tersebut sebagai Promised Land atau Tanah yang Dijanjikan. Bagi mereka, bangsa Israel merupakan kaum pilihan. Sementara tanah Palestina adalah wilayah sakral bernilai historis yang ditakdirkan Tuhan khusus bagi kelompok mereka. Keyakinan inilah yang mendasari anggapan bahwa bangsa atau penganut agama lain tidak berhak atas tanah Palestina.
Tetapi di sisi lain hal ini juga menujukan bahwa aksi invasi dan genosida yang dilancarkan Israel ke warga Palestina ini benar-benar untuk merebut wilayah tersebut. Bukan lagi sebuah pembelaan atas serangan organisasi Hamas pada 7 oktober 2023. Mereka membuat alibi bahwa aksi invasi Israel adalah sebuah pembalasan. Tetapi pada kenyataanya mereka berniat menguasai Palestina untuk kepentingan mereka. Walaupun bangsa Palestina sudah menduduki di wilayahnya selama ratusan tahun yang lalu.
“Ini adalah penjajahan, bukan aksi pembelaan seperti yang diucapan PM Israel di Den Haag” bisik Lee yang juga ikut membaca manuskrip tersebut.
“Ini bisa menjadi bukti bahwa Israel telah melakukan pelanggaran internasional. Dengan berita ini, PBB bersama ICJ akan memiliki dasar untuk menghukum Israel atas pembantaian jutaan warga Palestina yang tidak bersalah” sahut Pak Levy.
Tepat satu jam sebelum hakim ICJ mengesahkan pembelaan Israel, Pak Levy dengan tegas memerintahkan seluruh tim The Washington Post untuk fokus memberitakan kasus investigasi ini. Baik dalam bentuk surat kabar fisik atau media digital.
Hal yang mengejutkan, kurang dari 24 jam setelah news-nya di publish, berita ini langsung menjadi World Tranding Topic yang hangat dibicarakan di seluruh dunia Internasional. Dokumen otentik yang dibawa Waren kemudian diserahkan langsung oleh tim The Washington Post kepada panel hakim International Court of Justice (ICJ) di Den Haag. Dokumen ini sebagai bukti material baru untuk membatalkan klaim pembelaan diri Israel.
Kemudian pasca berita ini tersebar luas, demonstrasi pecah di Washington D.C, London hingga Den Haag. Jutaan massa kecewa terhadap para petinggi PBB yang tidak bisa segera menyelesaikan aksi kejahatan invasi Israel. Para demonstran juga mengekspresikan bela Palestina, serta menuntut majelis ICJ agar segera menghukum aksi pelanggaran genosida. Diluar kantor ICJ massa terus berdatangan dan terus bergema menyuarakan chant mereka: “Free, free Palestine.”
Sementara itu dari balik layer kaca Gedung Redaksi The Washington Post, Pak Levy dan para tim jurnalis lainya nampak senang, terharu sekaligus bersyukur atas keberhasilan misi mereka dalam membongkar kebenaran yang disembunyikan. Levingstone menatap foto Waren yang tersenyum di meja kerjanya. Kebenaran telah terungkap ke dunia internasional, meski harus dibayar dengan harga termahal. Yaitu pengorbanan nyawa putrinya yang bertugas di medan tugas.
Karya: Yamal, alumni Redaktur Mansajul Ulum 2026.
[1] The Washington Post adalah surat kabar harian terkemuka asal Amerika Serikat yang berbasis di Washington, D.C
[2] Tentara IDF adalah singkatan dari Israel Defense Forces atau pasukan pertahanan Israel. Yaitu Angkatan bersenjata resmi Negara Israel.
[3] https://www.tempo.co/internasional/genap-sebulan-konflik-hamas-vs-israel-ini-kilas-balik-serangan-7-oktober-2023-123848
[4] El dalam Bahasa Ibrani adalah sebutan untuk Allah sebagaimana yang dikenal Nabi Ibrahim AS. Ibn Ismael, Sang Penyeru, Tetes Publishing x Lirboyo Press.
[5] Rumah sakit yang dibangun oleh pemerintah RI di Bait Lahia, Gaza Utara.
[6] Enter Passphrase (Max 2 Tries Left) artinya: Masukan kata sandi (Maksimal dua kali percobaan)
[7] “KATA SANDI SALAH. PERINGATAN: TERSISA 1 KALI PERCOBAAN. SEMUA DATA AKAN DIHAPUS SECARA PERMANEN JIKA GAGAL.”
[8] “AKSES DIBERIKAN. SEDANG MENDEKRIPSI BERKAS”
[9] Nabi Ya’qub, Putra Nabi Ishaq dan cucu Nabi Ibrahim AS. Beliau dikenal sebagai moyang bangsa Israel.
[10] Ibn Ismael, Sang Penyeru, Tetes Publishing x Lirboyo Press.










