Ibuku selalu bangun lebih pagi dariku. Bahkan di hari libur sekalipun, suara keran air yang dinyalakan sudah terdengar sejak subuh, disusul suara peralatan dapur yang saling beradu. Aku jarang melihatnya duduk santai saat di rumah. Ia bekerja, dan selalu bekerja, seolah rumah ini hanyalah tempat persinggahan sebelum kembali ke tujuan utamanya. Aku sudah terbiasa dengan itu.
Sejak kecil aku tinggal bersama ibu, hanya kami berdua. Ayah pergi dan tak pernah benar-benar kembali, seakan ikatan kami terputus begitu saja. Meski demikian seluruh kebutuhan jasmaniku terpenuhi, baik uang saku, seragam baru, hingga biaya sekolah. Namun tidak dengan kebutuhan batinku. Ibu selalu sibuk bekerja sejak aku kecil, hingga sangat jarang kami bisa berkumpul dan mengobrol dengan santai. Hanya saat di meja makan, barulah kami bisa berkumpul dan mengobrol. Aku yang masih kecil akhirnya menyimpulkan sendiri bahwa ibu tidak peduli padaku, dan berpikir bahwa pekerjaan itu lebih penting daripada anaknya.
Pemikiran itu tertanam dalam benakku selama bertahun-tahun hingga saat mulai memasuki bangku kuliah. Aku memilih untuk tinggal di sebuah kos dekat kampus. Alasannya terdengar sederhana, agar lebih hemat biaya, padahal alasan sebenarnya adalah keinginanku untuk menjauh dari rumah, dan dari ibu. Jarak nyata yang tercipta membuatku merasa aman dari perasaan sesak tak pernah bisa kujelaskan.
Hingga suatu malam, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselku. Dari tetangga rumah.
“Ibumu kritis, Nak. Ia ingin bertemu,” ucap suara di seberang sana.
Aku melihat jam. Sudah terlalu larut, tubuhku lelah, pikiranku penuh. Besok saja, pikirku. Lagi pula ibu pasti akan mengerti keadaanku. Ia selalu mengerti atau setidaknya berusaha mengerti.
Namun ternyata aku salah.
Saat aku tiba, semua sudah terlambat. Ia sudah pergi. Anehnya, aku tidak menangis. Dadaku terasa kosong, seperti ruangan yang lama ditinggalkan penghuninya. Aku bahkan sempat bertanya pada diriku sendiri, mengapa kehilangan ini tidak terasa sesakit yang seharusnya.
Lalu aku terbangun, dan mendapati ibu kembali sibuk dengan cucian dan dapurnya. Aku mengira bahwa itu hanyalah mimpi biasa, sebuah mimpi yang terasa begitu panjang. Hingga kepergiannya terulang kembali. Berkali-kali dan di waktu yang sama. Aku mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi?
Entah di loop yang keberapa, aku mencoba datang lebih cepat, menemaninya lebih lama, bahkan berusaha menyelamatkannya. Namun waktu selalu membawaku kembali ke titik yang sama. Apa yang salah?
Berkali-kali mencoba, berkali-kali gagal juga. Aku lelah, baik secara fisik maupun mental. Jika aku tidak bisa mengubah takdir, lalu menapa aku selalu dikembalikan ke titik ini? Hingga akhirnya aku berhenti melawan. Kali ini, aku hanya akan duduk menunggu di rumah sakit, membiarkan segalanya berjalan sebagaimana mestinya. Di sana aku sering bertemu seorang nenek dan cucunya, berbincang ringan untuk mengisi waktu.
Hingga suatu saat, aku menyaksikan pertengkaran antara nenek itu dan anaknya. Pentengkaran yang melibatkan masa lalu, mengorek luka-luka lama. Ternyata ia sama sepertiku, ditinggal pergi seseorang yang seharusnya menjadi tempat pulang. Ia menyalahkan ibunya karena memilih pergi bersama orang lain, meninggalkan seseorang yang benar-benar peduli dengannya.
Namun di akhir percakapan itu, dengan suara yang bergetar, anak itu berkata, “Meski begitu kamu tetaplah ibuku. Yang dulu pernah menjaga dan menyayangiku. Apapun kesalahan yang pernah kau perbuat, aku tetaplah anakmu dan akan selalu menjadi anakmu.”
Kata-kata itu mengguncang sesuatu di dalam diriku. Aku teringat ibu, sosoknya yang selalu menyiapkan sarapan setiap pagi, uang saku yang tak pernah terlambat, maupun hal-hal kecil yang dia lakukan padaku. Semuanya masuk membanjiri memoriku. Karena terlalu terbiasa, aku menganggap semuanya sebagai kewajiban, bukan sebagai bentuk perhatian darinya kepadaku.
Aku berlari ke ruangannya. Kugenggam erat tangannya yang kini kurus dan kering. Aku menangis, menumpahkan seluruh perasaan yang selama ini kupendam, amarah, kekecewaan, dan rasa ditinggalkan. Untuk pertama kalinya aku bercerita kepadanya, kepada ibuku, satu-satunya sandaranku.
“Aku anakmu,” kataku terisak.
“Dan akan selalu menjadi anakmu.”
Ruangan itu terasa lebih sunyi, namun tidak lagi menyesakkan.
Ibu mendengarkan dengan sabar. Bibirnya tersenyum lemah, sementara tangannya mengelus rambutku seperti yang dulu sering dilakukannya saat aku masih kecil. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya, bersamaan dengan hembusan napas terakhirnya.
Setelah pemakaman, aku yang kelelahan setelah menangis hebat akhirnya tertidur, dengan dada yang terasa jauh lebih ringan. Seperti simpul yang dulunya kusut, kini akhirnya terurai.
Keesokan paginya, aku terbangun. Tidak ada suara keran air dinyalakan. Tidak ada juga suara alat dapur yang beradu. Waktu kembali berjalan sebagaimana mestinya. Aku akhirnya mengerti, bahwa yang selama ini harus diselesaikan bukanlah tentang kematian ibu, melainkan jarak di antara kami yang akhirnya menemukan damainya.
Karya: Siti Mau’idhotur Rohmah, Alumni Mansajul Ulum 2023.










