Menu

Mode Gelap

Cerpen · 13 Mar 2026 14:30 WIB ·

Perjalanan Pulang di Bulan Suci


 Perjalanan Pulang di Bulan Suci Perbesar

Di ufuk timur, langit menawan dengan hamparan lautan birunya, dihiasi kilauan sinar matahari yang mengintip di balik gumpalan-gumpalan awan kelabu. Terlihat orang-orang sibuk berbincang-bincang sambil menungu jemputan dari orang tua. Hari ini adalah jadwal  liburan kami para santri. Apalagi liburan bulan puasa terhitung lama, membuatku tak sabar untuk kembali ke rumah dengan melakukan hal-hal yang sudah terencana.

Liburan ini dapat kunikmati setelah mengaji selama delapan belas hari di bulan Ramadhan dengan metode kilatan. Bayangkan, kalian disuruh memaknai kitab dengan super cepat kilat. Sang kiai yang membacanya seperti baca Al-Quran dan kita disuruh mengikutinya, pasti capek. Apalagi ngajinya dilakukan hampir sehari semalam penuh. Maka dengan liburan ini terbalaskan sudah rasa lelah dan penat kami. Sehingga jiwa kami benar-benar merasakan merdeka saat liburan tiba.

Perkenalkan, namaku Muhammad Yoga. Aku sudah mondok sekitar lima tahunan di tempat “Menenun Ilmu”, nama pondokku. Meskipun liburan puasa sudah biasa bagiku, aku tetap merasakan gembira ketika mendapatkanya. Aku tidak seperti santri lain yang di jemput orang tuanya. Aku harus naik bus untuk pulang sendiri. Maka setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal dan administrasi yang belum lunas, aku melangkah ke rumah kiai untuk sowan.

“Ga, mau sowan?” Aku menoleh ketika namaku dipanggil seseorang, ternyata Fahmi. Aku mengangguk.

“Bareng.” dia melangkah mendekat.

“Ayo.” ucapku berlalu.

“Pulang juga kamu?” tanyaku sambil memandang rumah kiai yang ramai.

“Harus lah.’’ jawabnya cengengesan.

“Rumah dekat kok pulang.” ejekku.

“Ya bebas lah, yang penting liburan.” ia tertawa bangga. Aku tersenym melihatnya.

Tak mau buang-buang waktu, kami berdua segera mendekat kerumah kiai ketika sedikit sepi.

Assalamualikum.” salamku ketika di depan pintu. Kulihat sang kiai yang di ruang tamu depan sibuk berbincang dengan tamunya  menjawab salamku lalu menyuruh masuk.

“Ada apa, Nang?” tanya kiai setelah aku berhasil masuk ke dalam.

Niku, Bah, bade sowan wangsul.” jawabku yang sekaligus mewakili Fahmi.

“Sudah dijemput orang tuamu?” tanyanya lagi.

Mboten, Bah, kulo umbal.”

“Rumahmu Tambak Agung itu kan, Nang.” sambil menunjukku.

Nggih, Bah.” balasku. 

“Terus ke arah selatannya nanti bagaimana?”

“Niku, Bah, mlampah.”

“Jauh sekali itu, Nang. Begini ya terlihat pendekar Cempaka Putih beneran.” para tamu terdengar mengeluarkan tertawa mendengar perbincanganku.

Aku menunduk malu, tak menyangka kiaiku tahu kalo aku ikut perguruan silat. Di sampingku fahmi menyodok kakiku berkali-kali menahan tawa. Aku balas menyikutnya.

“Kamu juga pulang, Mi?” giliran fahmi yang di tanya.

“Nggih, Bah.”

“Orang rumahmu dekat kok pulang, sana bantu parkir-parkir dahulu.” ucap kiai yang juga diiringi gelak tawa tamu.

Fahmi menunduk malu, disampingnya aku menyodok kakinya berkali-laki menahan tawa. Dia gantian menyikutku. Meskpun kiai mengucapkan seperti itu, buku pulang kami berdua tetap diberi tanda tangan yang artinya diperbolehkan pulang.

Setelah keluar dari rumah kiai, aku dan fahmi berpisah mengurus pekerjaan masing-masing.  Aku berjalan cepat keluar pondok untuk mencari bus. Tempat menunggu bus yang berada di selatan pondok membuat perjalananku lumayan lelah karena jauhnya jarak. Untungnya setelah sampai di sana aku tidak perlu menunggu bus, karena aku yang sudah ditunggunya di sana. Segera aku naik mencari tempat duduk, tas kuletakkan di samping setelah aku duduk di bangku belakang.

Tempatku bergetar pelan ketika mesin menyala, bus mulai melaju. Di kursi belakang aku tersenyum senang setelah akhirnya dapat menikmati liburan. Kubayangkan beragam hal yang sudah kurencanakan. Jendela kubuka untuk melihat pemanandangan sawah yang menguning buah padinya, angin yang berhembus pelan membuatku terlelap memejamkan mata.

Tiba-tiba bus berhenti di sebuah pasar ikan, dengan sedikit kesadaran aku melihat betapa ramainya pasar itu. Saat aku mau memejamkan mata, aku melihat seorang ibu-ibu membawa satu ember ikan. Dia melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk. Aku yang mengantuk mencoba tidur lagi terbangunkan oleh tangan yang menepuk-nepuk pundakku. 

Le, bangun.” aku membuka mata melihat orang yang membangunkanku ternyata ibu tadi.

Enten nopo, Buk?”tanyaku sambil memperbaiki dudukku.

“Kamu pindah ke depan ya, aku mau di situ.” suruh ibu tersebut.

Mboten, Buk, kulo sampon nyaman teng mriki.” jawabku menolak. Enak saja aku yang duduk dulu disuruh pindah tempat.

“Tolong, le, aku bawa ikan banyak ini. Takutnya mengganggu orang jika ditaruh depan.” ngototnya.

“Njenengan mawon engkang pindah.” balasku dengan nada agak keras karena sedikit kesal.

Ibu tadi terus menerus bicara, membuatku akhirnya terpaksa untuk berpindah. Dengan hati yang jengkel aku melangkah menuju bangku depan. Tiba-tiba sebuah pesan dari kiai terlintas dalam benakku, -‘Nanti saat liburan saya harap anak-anak jangan melupakan akhlak sebagai santri.’- membuatku merasa menyesal karena telah berani membahtah orang tua. Aku kembali untuk meminta maaf sebelum aku tinggal duduk kembali.

Bus kembali berjalan, kondisinya yang sudah lumayan penuh membuat bus melaju lebih cepat. Tidak terlalu cepat juga, kalau kata orang yang naik mobil melihatnya. Maklum bus tua yang penuh dengan bau berbagai kringat tercampur di dalamnya. 

Setelah berdebat dengan ibu tadi, aku tidak bisa tidur kembali lalu menggantinya dengan melihat jalanan sekitar. Tak terasa bus sudah semakin dekat dengan daerahku. Aku berdiri memakai tasku dan melangkahkan kaki ke pintu belakang. Ibu tadi yang menyuruhku pindah terlihat masih tidur nyenyak, wajahnya tampak lelah. Aku menghela nafas pelan kembali menyesali telah membatahnya tadi. Terdengar kondektur sudah menyebut daerahku, langsung saja aku turun setelah bus berhenti.

Aku memandangi desaku, segera aku menyebrangi jalan untuk menujunya. Jalan yang mengarah ke selatan inilah jalan jauh yang di maksud kiaiku. Meskipun sedang puasa, kupaksakan berjalan di tengah panasnya terik matahari. Aku tidak merasakan panasnya sebab terganti dengan rasa bahagiaku. Beberapa kali aku menyapa orang yang kukenal saat lewat, hingga tak sadar akhirnya sampai di depan rumah.

Perlahan aku membuka pintu lalu masuk rumah. Tas kuletakkan di kamar. Aku memandangi jam yang menunjukkan waktu sholat dhuhur, cepat aku bergegas wudhu untuk melaksanakan sholat. Tubuh kurebahkan sambil tersenyum membayangkan banyaknya kisah yang ingin kuselesaikan sehabis sholat. Namuun tak berselang lama aku akhirnya terlelap tidur panjang. 

***

Jam demi jam telah berjalan bergantian, setelah sholat tarawih dan tadarus di mushola RT, aku duduk manis di teras rumah untuk menunggu teman-temanku yang akan datang.  Kami punya misi besar untuk dilaksanakan di malam nanti.  

Hei, Ga.” aku mendongak, ternyata Angga, salah seorang temanku yang sudah datang lebih awal.

Weh, yang lain pada kemana?” aku berdiri berjalan mendekat.

Otw” balasnya.

Persis setelah ucapan tersebut terdengar empat deru mesin motor mendekat.

“Ramai sekali nih.”

“Biasa.” balas salah seorang temanku, Fitrah. Sepertinya sudah biasa mereka semua berlalu melewatiku  untuk masuk rumah, aku mengikuti saja.

“Agenda tong tek bagaimana?’’ tanyaku setelah duduk.

“Sudah tidak relate sekarang, ada yang lebih mantap lagi untuk nanti malam.” ucap temanku yang bertubuh besar, Iam.

“Terus yang relate apa sekarang?”

“Sound a, Bos.” jawab mereka serempak membuatku kaget.

“Seru tidak?”

“Jangan ditanya lagi kalau soal itu.” jawab Angga.

“Kapan berangkatnya ini?” tanyaku penasaran.

“Nanti, sebentar lagi.” Jawab Fitrah sambil memandang jam, semua temanku mengangguk.

Malam bergeser semakin larut, tapi tidak jarang orang yang belum tidur menikmati bulan Ramadhan. Seperti di rumahku. Teman-temanku ternyata telah menyiapkan sebuah alat beroda dua dengan tiga tumpuk sound di atasnya yang bersanding dengan sebuah deisel sebagai pengganti tong tek. Jam masih menunjukkan pukul satu, namun aku yang masih asik bermain game tiba-tiba Angga menyusuruhku untuk bersiap.

Loh, baru jam satu gini?” aku tidak mempedulikan seruan temanku.

“Cek sound dulu.” ucap Angga sambil menarik tanganku.

“Dimana?” tanyaku. 

“Sudah, ikut saja. Tinggat ngikut saja kebanyakan tanya.” balasnya sambil berlalu, aku yang tidak mengerti hanya pasrah mengikuti.

Iring-iringan kami menuju jalan di belakang rumahku, aku mengerti jalan ini akan mengarah lurus di kawasan pemakaman desa. Sambil berjalan aku masih tidak mengerti kenapa harus melakukannya larut tengah malam begini. Aku melirik jam di layar HP masih menunjukan angka 01.20 membuat perasaanku janggal. Setelah melewati rumah-rumah akhirnya kami semua sampai di sawah dekat pemakaman. Temanku segera mengotak-atik sound, aku hanya diam melihatnya.

Suara raungan diesel berbunyi kencang, disusul gelegar shound yang tak mau kalah untuk bersuara lebih kencang. Daun telinga kututup, kuburan yang tadi senyap berubah ramai. Suaranya mengalir di seluruh penjuru arah membuat diriku semakin tidak tenang.

“Apa tidak mengganggu orang lain ini?” tanyaku panik.

“Tidak, tenang saja.” jawab Angga sambil sibuk mengotak-atik soundnya.

“Beneran? Suaranya keras sekali ini.” aku mendekatinya.

“Aman, Ga. Ini di luar jangkauan warga.” ucap Fitrah yang tau aku khawatir.

Namun tak berselang lama, tiba-tiba salah seorang temanku berteriak. Dia mendekat dengan raut muka panik.

“Kesurupan kamu ya?” tanya Angga.

“Gawat ini, kita difoto orang dan dikirim ke grup RT.” ucapnya sambil menunjukan HP. Kami mengrubunginya melihat.

“Kamu kok bisa ikut grup RT?” celetuk Iam.

“Iya, orang ini HP ibukku.” balasnya yang membuat kami serempak tertawa.

“Malah tertawa, terus ini bagaimana?’’ tanya Yusron.

“Yang foto siapa memang?” tanyaku panik.

“Kalau tidak salah itu rumah warna hijau.” sambil menunjuk rumah di dekat kami cek sound.

“Orang tua sekarang tidak tahu perasaan anak muda apa, sudah matikan saja, ayo kembali ke rumah Yoga dulu.”  kesal Angga sambil menyuruh Iam mematikan sund. Aku hanya menghela napas berat.

Akhirnya kami berjalan pulang, tepat di rumah yang ditunjuk Yusron tadi salah seorang temanku yang membawa motor mengglegarkan knalpotnya merasa kesal. Aku sangat terkejut mendengarnya. Alat sound diletakkan di samping rumah ketika kami sampai, kami duduk membicarakan perkara tadi.

‘’Wah, ternyata kalian semua tadi.” disela-sela kami berbicara tiba-tiba ada orang tua yang berjalan ke arah kami.

Seperti orang yang tertangkap basah, kami hanya diam karna tidak mengerti mau berbica apa.

“Gara-gara awakmu kabeh, orang-orang RT pada marah ini.” bentak orang tersebut.

“Nggih, Pak, ngapuntenene.” balasku.

Ngapunten saja ya ga cukup, Le, apalagi hanya sama saya.” 

“Terus pripun, Pak?” tanyaku lagi.

“Kalian semua aku vidio, klarifikasi minta maaf sama warga RT.” 

“Harus, Pak?”

“Harus, sudah cepetan!”

Mau tidak mau akhirnya kami terpaksa divideo untuk klarifikasi. Sebagai seorang santri rasanya aku sangat menyesal tidak mematuhi amanah dari kiai. Dengan wajah tertekuk kami akhirnya hanya bisa pasrah ketika berbicara bersama-sama.

“Teman-teman semua, baru sampai ke rumah sehari rasanya perjuanganku di pesantren selama bertahun-tahun lamanya sia-sia.” balasku setelah semua perkara selesai.

“Kenapa gitu?” ucap mereka serempak.

“Aku belum bisa mempraktikkan akhlak santri sesuai amanah kiaiku. Aku teringat penjelasan kiaiku bahwa membaca Al-Quran di masjid dengan suara keras yang dapat mengganggu ketenangan sholat orang lain saja dilarang, sekelas membaca Al-Quran saja dilarang jika mengganggu orang lain. Apalagi kita, sudah jelas-jelas menghidupkan shound dengan suara keras di siang hari saja dapat mengganggu orang lain, terlebih malam hari seperti ini.”

“Maaf, Yoga. Kami tidak mengerti, setelah ini tidak akan terulang lagi pokoknya. Ini yang terakhir kalinya. Setuju?” ucap Angga.

“Setuju..!” jawab kami semua serempak.

 

Karya: Alpratama, santri Mansajul Ulum.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 67 kali

Baca Lainnya

Ibu dan Tiga Kurcaci

10 April 2026 - 09:52 WIB

Anakmu

13 Februari 2026 - 12:57 WIB

Tentang Aku dan Pesantren

16 Januari 2026 - 13:09 WIB

Ikatan

19 Desember 2025 - 10:16 WIB

Harga Mati

21 November 2025 - 12:35 WIB

Menyulam Benang Persaudaraan

24 Oktober 2025 - 12:32 WIB

Trending di Cerpen