Menu

Mode Gelap

Cerpen · 10 Apr 2026 09:52 WIB ·

Ibu dan Tiga Kurcaci


 Ibu dan Tiga Kurcaci Perbesar

Memandang matanya seperti menyusuri telaga kesakitan. Darah, nanah, bahkan duri-duri tajam bercampur menjadi bundaran hitam mengerikan. Ujungnya seakan menembus relung hatiku. Menyesakkan. Sampai tak sadar air mataku mengalir deras selama tiga jam berhadapan dengannya. Memandang wajah ayu yang di bibirnya terlukis senyum tipis menenangkan. Ah, andai saja senyum itu ada untuk diriku.

Panggil saja dia Ibu. Baru beberapa jam aku bertemu dengannya, aku merasakan dia adalah sosok Ibu yang selama ini aku rindukan. Suaranya seperti nyanyian burung menenangkan. Matanya teduh, seteduh pohon rindang yang basah terkena embun fajar. Tangannya sehalus kapas, sampai ingin kugenggam agar tak hilang melayang-layang. Pelukannya sehangat mentari datang. Oh Tuhan, ini pelukan pertama yang tidak ingin aku lupakan. Bahkan, kalau boleh, ingin kumiliki seutuhnya.

Hari itu matahari sudah beranjak meninggalkan langit. Aku selalu suka senja—bukan hanya karena pancaran cahayanya yang cantik, tapi karena aku yakin, esok ia takkan mengingkari janji. Sejauh apa pun ia pergi, ia tidak benar-benar menghilang. Esok ia akan kembali memeluk awan. Semurka apa pun ia dengan keadaan, ia akan selalu kembali pulang, menenangkan langitnya.

Kami duduk bersisian di salah satu bangku taman. Suara merdunya berceloteh banyak hal tentang tiga orang yang dia sebut “Tiga Kurcaci”. Sambil menatap lekat foto usang di genggamannya, ia tersenyum kepadaku. Senyum yang menghipnotis. Aku mengerti, ketiga orang itu adalah anugerah paling berharga yang Allah titipkan kepadanya.

Anugerah? Awalnya kosakata itu tidak pernah ada di kamus hidupku. Asing sekali. Namun, setelah bertemu sosok Ibu, kata anugerah seakan muncul bukan hanya dalam angan, tapi merasuk ke dalam diriku. Bagiku, hanya orang-orang suci yang berhak memiliki anugerah atau mendapatkan anugerah dari-Nya. Apakah aku sekarang bermutasi menjadi orang yang suci? Karena kurasa, bertemu dengan Ibu adalah anugerah pertama yang aku temukan.

Tempat ini memang selayaknya taman di tengah kota. Asri, banyak pohon, bunga warna-warni yang selalu dihinggapi kupu-kupu dan burung-burung kecil. Bangku-bangku kayu tersebar di setiap sudutnya. Tempat yang menjadikan segala kesedihan sirna sekejap. Segala kesakitan hilang seketika, digantikan kagum melihat keasrian di tengah keriuhan. Tapi hal itu hanya berlaku sementara—sampai kau melangkahkan kaki keluar gerbang. Seperti berjalan melintasi waktu, kau akan kembali ke tempatmu semula. Di mana kesendirian selalu menjadi teman sepanjang masa.

Entah apa yang membuatku menghampiri dan duduk di sebelahnya. Melihat Ibu seperti melihat diriku sendiri—lelah, kesepian, dan ingin hidup ini segera berakhir. Walaupun aku yakin, semua orang di tempat ini menjadikannya teman kebahagiaan.

Kupandangi lekat wajah ayunya yang terlihat sedikit menua. Senyum getirnya membuat mata itu semakin menyedihkan. Aku hanya diam mendengarkan kata demi kata yang Ibu ucapkan. Mengalir bagai sungai berdarah. Entah, kehidupan seperti apa yang telah Ibu lalui.

Kupandangi lagi potret lawas di genggaman Ibu. Ada empat orang di sana. Ibu dan ketiga kurcacinya. Anak yang kuyakini sebagai anak pertama berada di samping kanan Ibu, anak kedua di samping kiri, dan anak ketiga berada di tengah-tengah. Wajah mereka terlihat polos.

Kupandangi lagi, lebih lekat. Deg. Baju mereka terlihat kusam, dipenuhi darah yang telah lama mengering.

Kualihkan tatapanku. Memandang Ibu yang masih tersenyum. Tapi entah mengapa, senyumannya terasa berbeda. Dingin. Mematikan.
Seketika angin senja bertiup kencang. Foto di tangannya terlepas, jatuh di pangkuanku. Di baliknya tertulis samar, “Terima kasih sudah menemani kami sore ini.”

Karya: Karra Khatun, santri Mansajul Ulum.

 

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 45 kali

Baca Lainnya

Jaga Alam Kita

8 Mei 2026 - 12:35 WIB

Perjalanan Pulang di Bulan Suci

13 Maret 2026 - 14:30 WIB

Anakmu

13 Februari 2026 - 12:57 WIB

Tentang Aku dan Pesantren

16 Januari 2026 - 13:09 WIB

Ikatan

19 Desember 2025 - 10:16 WIB

Harga Mati

21 November 2025 - 12:35 WIB

Trending di Cerpen