Langit malam tampil menawan ditaburi bintang-bintang saling bekerdipan. Bulan memberikan sumber kehidupan mengusir kegelapan. Angin berhamburan menusuk-nusuk kulit yang telanjang. Diiringi nyanyian katak dan jangkrik memecah keheningan.
Di belakang tiang berdiri bertuliskan Pondok Pesantren Ar-Rahman yang dihiasi tanaman besi berjejer rapi mengelilingi dua bangunan tua saling pandang tanpa bosan. Tampak beberapa anak Adam masih berseliweran dengan tenang. Beberapa dari mereka ada yang serius melahap buku-buku klasik karangan ulama yang sudah wafat beratus-ratus tahun silam. Di samping besi-besi berdiri, bangunan gazebo mematung ditemani seorang anak mengasingkan diri. Ntah sudah berapa lama kopi menemaninya sehingga hembusan nafasnya sudah tidak terlihat lagi.
“Melamun saja, Zak.” Sebuah suara menyambar telinganya membuat pemuda tersebut sontak terbangun dari lamunannya.
“Ah, ternyata engkau, Dit. Mengagetkan saja.” kesal Zaki, Adit tersenyum menanggapi.
“Kamu lagi ngapain coba malam-malam gini menyendiri? Hati-hati ntar kesambet lo.” tanya Adit sambil mencomot pisang goreng.
“Enggak, cuma membayangkan menulis karya indah saja.” jawab Zaki tersenyum.
Suasana hening sesaat, mereka sibuk sendiri sendiri. Adit sibuk menikmati pisang goreng, sedangkan Zaki sibuk menatap sang bulan.
“Dit.” pelan Zaki bicara, Adit menoleh.
“Apa?”
“Kamu ingat masa lalu kita yang mengantarkan ke pesantren?” lanjut Zaki.
“Ingatlah, mana bisa aku lupa.” jawab Adit sambil nge-gas.
“Kenapa?”
“Maaf ya, Dit.”
“Untuk?”
“Semua kejadian itu.”
“Hehe, nggak masalah kawan, biasa laki-laki tuh harus kuat.” kekeh Adit sambil memukul-mukul dadanya bangga.
Zaki tersenyum mendengarnya, kejadian itu masih tergambar jelas di ingatanya. Sebuah kejadian yang begitu parah mengantarkannya ke pesantren bersama sahabatnya. Matanya menatap jauh seraya memandang ke arah dua bangunan tua pesantren. Pikirannya melayang-layang menuju beberapa masa silam.
“Apa kamu bodoh! Seharusnya hal itu tidak kamu lakukan.” bentak seseorang penuh amarah.
“Apa salahku? Aku hanya membalas perbuatan mereka.” Seseorang yang dibentak balas membentak dengan keras, pakaiannya awut-awutan, tanganya mengepal keras menahan emosi.
“Tapi tidak begitu juga, Zak.” ucap Adit melunak, ia menghela nafas pelan. Tak menyangka dengan hal yang dilakukan oleh Zaki. Zaki mendengus tak peduli dengan ucapan Adit.
“Dengar, Dit. Aku melakukan pengroyokan itu karena mereka mengejek kita, maka aku memberikan sedikit pelajaran bagi mereka.” sarkas Zaki. Adit hanya diam mendengarnya.
“Sudahlah, Zak. Hentikan saja perbuatanmu ini. Ayo ikut aku ke pesantren saja.” ajak Adit.
“Aku menolak ajakanmu!” tanggap Zaki cepat.
“Kenapa? Kamu bisa damai di sana, tidak terlibat hal-hal yang akan merusak masa depanmu.” Adit memberikan penjelasan.
“Hah, kau siapa membahas masa depanku? Tau apa kau kalau masa depanku akan rusak? Tuhan kau!” runtut Zaki dengan senyum sinisnya.
Adit menghela nafas kasar, amat susah menyadarkan sahabatnya ini, wataknya dari dulu keras kepala. Ia tidak mau mengalah, tidak mau mendengarkan.
“Bukan, Zak. Aku hanya ingin agar nanti bisa tentram hidupmu, bisa…?”
“Omong kosong!” bantah Zaki.
“Aku tidak peduli ceramahmu, Dit. Walaupun kamu sahabatku, silahkan kamu sendiri saja yang ke pesantren.” lanjut Zaki.
“Ayolah, Zak, ikut aku,” Adit masih berusaha.
“Kita ke sana setelah lulus SMP nanti,”
“Gak berguna, Dit.” potong Zaki lagi.
“Apa maksudmu?”
“Hehe iya, belajar ke pesantren tidak ada gunanya, hanya buang-buang uang.” Zaki terkekeh mengejek.
BUK!!
Kekehan Zaki berhenti, tubuhnya terlempar terkena pukulan keras Adit. Zaki kaget, tak menyangka Adit akan memukul dirinya.
“Oke, Dit. Kamu sudah menjadi orang lain. Ternyata kamu sudah berani melukai sahabatmu sendiri.” ucap Zaki berdiri, tanganya memegang pipi kanannya yang tersa sakit terkena pukulan.
“Bukan gitu, Zak. Aku hanya ingin kau…”
“Ahh! Sudahlah jangan temui aku lagi.” teriak Zaki melangkah pergi.
Adit mengusap rambutnya frustrasi, tak menyangka situasi akan serumit ini. Ia memperhatikan kepergian Zaki dengan mata berkaca-kaca.
“Dasar, tidak berguna!” Gertak Zaki yang mengambil montornya.
Saat mau menjalankan montornya, HP di sakunya berdering. Dia mengambilnya.
“Halo!”
“Bos, anggota kita ada yang dikeroyok.” Seseorang di seberang telepon berbicara.
“Apa?” Zaki mulai mematikan motornya.
“Oke, aku kesana.” Zaki mulai pergi meninggalkan Adit sendiri yang tampak mengkhawatirkan dirinya.
Tiba di sana, tawuran terjadi, para pelajar ramai-ramai saling memukul dan melukai. Zaki turun dari motornya lalu langsung menuju area titik tawuran.
“Zak, tolong!” teriak seseorang yang dipukuli oleh dua orang, dia mati-matian bertahan. Zaki menoleh.
Ia bergerak menolong, tinjunya menghantam salah seorang itu membuatnya tersungkur. Temannya tidak terima langsung membalas pukulan, tapi dihindari oleh Zaki dan dipukul balik sehingga membuatnya juga tersungkur.
Zaki tidak berhenti, ia ganas memukul para musuhnya, membantu temannya yang dihajar, membalas balik serangan lawan. Tawuran yang awalnya membuat kubu Zaki hampir kalah menjadi berbalik. Zaki dan teman-temannya bertarung bersama membuat kubu lawan kuwalahan.
BUK!!
Sekali lagi Zaki membuat satu orang tersungkur. Kemampuan berkelahinya tidak perlu diragukan. Baginya berkelahi mudah, ia sudah hapal bagaimana menghabisi lawannya.
Di antara banyaknya tubuh yang bertarung, seseorang mendekat kearah Zaki. Ia berjalan pelan tapi pasti membuat Zaki lalai akan kebaradaannya. Tangannya dilipat ke belakang menggenggam sebuah pisau lipat. Posisinya semakin mendekati Zaki yang masih sibuk bertarung membelakanginya.
“Awas, Zak!” Teman Zaki yang melihat berteriak kepadanya, namun terlambat. Posisi Zaki yang sangat jauh dan ramainya suara tawuran membuat zaki tidak mendengarnya.
“Mati kau!” teriak orang itu sambil berlari, Zaki menoleh.
Sepersekian detik sebelum pisau itu menyentuh tubuh Zaki, seseorang berlari kencang menghadang.
JLEB!!
Pisau menusuk di perut orang itu, Zaki terkejut melihat orang yang melindunginya.
Ia lihat orang itu tercekat. Tak menyangka yang tertusuk adalah sahabatnya sendiri, Adit. Sontak dia langsung menghajar membabi buta orang yang menusuk sahabatnya, beribu-ribu pukulan, dan beribu-ribu tendangan ia lancarkan sehingga membuat orang itu diam tak bergerak.
“Dit, kamu ngapain di sini.” Zaki menopang tubuh Adit yang roboh.
“Aku tadi lewat sini, lalu lihat kamu yang hampir ditusuk. Aku reflek menghadang.” jawab Adit sambil tersenyum lemah.
“PANGGIL AMBULAN!!” Zaki berteriak kencang kepada temannya yang sudah menyelesaikan tawuran. Cepat-cepat mereka menghubungi ambulan.
“Bertahan, Dit. Ambulan sebentar lagi tiba.” ucap Zaki, tubuhnya gemetar, jantungnya berlari, tanganya berlumuran darah. Adit mengangguk lemah.
“Kenapa kamu menyelamatkanku, Dit. Bukankah aku sudah mengecewakanmu.” Rasa bersalah meghiasi wajahnya.
“Kamu sahabatku, Zak.” jawab Adit pelan, tubuhnya makin lemah.
“Tapi kenapa?”
“Karena kamu sahabatku, tak peduli apapun masalah dan kondisinya, meskipun kita berbeda pandangan, kamu tetap sahabatku, teman spesialku.” ujar Adit.
“Zak, masa depan itu sekali, tidak datang dua kali.” lanjut Adit.
“Jadi karyakanlah itu seindah mugkin. Meskipun kita pernah salah, hilang arah, dan mau menyerah, selagi hal itu belum merubah karya kita, kita bisa menjadi peribadi yang lebih baik dan mencetak karya yang indah.” ucap panjang Adit.
“Iya, Dit. Aku janji akan membuat karyaku indah tanpa kesalahan. Aku akan berusaha. Jika nanti aku salah, tolong ingatkan aku. Aku ingin bersama-sama berjalan denganmu membuatnya.” sambil mengenggam tangan Adit, Zaki menangis mengucapkan ketersediaan siap meracik masa depan bersama.
“Tentu, Zak. Aku akan selalu menemanimu.” tanggap Adit pelan, tersenyum indah.
Zaki tersenyum indah mengingatnya, tatapanya beralih kepada Adit yang masih betah makan pisang goreng. Tertawa pelan.
“Woy, kau kenapa lihat aku sambil tertawa.” tanya Adit curiga.
“Enggak.” jawab Adit di sela-sela tawanya.
“Eh. Wong edan![1] lama-lama makin malam kok tambah gila.” kekeh Adit lalu berpamitan tidur. Zaki mengangguk.
Ia memandang tubuh sahabatnya yang semakin menghilang ditelan kegelapan. Sambil tersenyum, ia tak berhenti bersyukur karena Tuhan sudah memberikan ikatan dengan seorang yang baik. Sahabat yang menegurnya saat sudah hilang arah, dan yang memberikan semangat saat menyerah.
Karya: Dimas Yoga Pratama, Santri Mansajul Ulum.
[1] Orang gila.










