Di sebuah teras, menuju senja, tampak puluhan gadis bermukena sedang fokus dengan kesibukannya sembari menunggu panggilan sembahyang maghrib menggema. Sebagian ada yang mendaras kitabnya, membaca wahyu Muhammad Al-Musthafa, dan ada yang sekedar memperlancar hafalannya. Aku adalah bagian dari mereka, memilih duduk di teras paling utara. Di sampingku, adalah bestie yang menemaniku dengan setia.
“Yul, kamu udah dapat bait ke berapa?” tanya seorang yang berkacamata.
“Aku baru nyampe bait 700, kalau kamu?” tanyaku balik.
“Aku bait 780, tapi ga begitu lancar, ini tinggal ngelancarin baru nambah hafalan lagi.” jawab Risa.
“Wow, cepet banget udah dapet segitu.” ucapku karena kaget dengan pencapaiannya.
“Ehehe, kamu segera nyusul dong. Biar kita nanti setor hafalan sama-sama.”
“Kamunya aja yang kelewat pinter, IQ-nya tinggi, rajin pula. Otakku kan ga se-encer otakmu.”
“Iya deh iya, kalo gitu tak tungguin biar kita setornya bisa barengan.”
Risa adalah teman pertamaku saat pertama kali menjejakkan kaki di penjara suci ini. Kami bahkan bersahabat hingga sekarang. Dia itu orangnya humble, royal, pinter, cantik pula. Idaman santri putra deh pokoknya, hehe. Saat ini kami masih duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah, tapi Risa lebih dulu nyantri daripada aku. Aku mulai mondok setelah lulus dari Mts di kampungku. Sedangkan Risa mulai mondok setelah lulus dari SD. Jadi, Risa lebih senior 3 tahun daripada aku. Namun ia selalu tidak suka jika dianggap senior di sini. Menurutnya, santri lawas ataupun baru sama saja, haknya sama, kewajibannya juga sama.
~ ~ ~
Tak kusangka waktu berlalu tanpa terasa, aku dan Risa telah lulus dari madrasah. Kami berdua mendapatkan nilai akhir yang sangat memuaskan. Tentu saja, si kutu buku itu juara pertamanya. Siapa lagi kalau bukan sahabatku, Risa. Sedangkan aku menempati posisi kedua setelahnya. Dari dulu kami memang menjadi rival, namun anehnya kami tidak bermusuhan, bahkan hingga kini selalu bersama kemana pun kaki melangkah pergi. Hingga suatu malam saat belajar bersama.
“Yuli, setelah ini kamu mau lanjut kemana?” ucap Risa yang memecah fokusku.
“Mungkin masih di sini dulu untuk 3 atau 4 tahun. Kenapa emang?” tanyaku balik.
“Aku kayaknya mau pindah pondok, sambil kuliah juga. Itupun orang tuaku yang minta. Mungkin minggu depan dipamitin sama Abah Umik.” Jawabnya.
“Loh, kamu mau ninggalin aku nih? Terus nanti aku sama siapa? Belajar bareng sama siapa? Makan bareng siapa? Bercanda sama siapa? Huhuhu.”
Aku terus melontarkan banyak pertanyaan pada Risa. Jujur, aku belum siap ditinggalkannya. Selama ini, hanya dia yang paling dekat denganku. Untuk santri yang lain aku hanya sebatas mengenal mereka, tak lebih. Karena aku adalah tipikal orang yang introvert, pendiam, dan pemalu. Makanya aku shock karena tiba-tiba ia mengatakan hal itu.
“Ya, gimana lagi, Yul. Itu sudah keputusan bulat orang tuaku. Sudah pernah kubujuk tapi mereka tetap saja kukuh dengan pendiriannya. Aku tidak mau menjadi anak yang durhaka dengan menentang keputusan mereka. Toh aku disuruh mondok lagi, sambil kuliah juga.”
“Kita dulu pernah janji boyongan sama-sama. Kalo gitu aku ikut kamu boyong juga, hmphh.” ucapku sambil memalingkan wajah darinya.
“Jangan, Yul, kamu di sini saja. Lanjutkan perjuanganmu yang ingin mengalahkanku dulu. Kamu juga pernah bilang dulu kalau pengen ngehafalin Al-Qur’an setelah lulus, biar bisa ngasih hadiah mahkota sama kedua orang tuamu nanti di surga. Toh, kita masih bisa komunikasi lewat handphone kan.” bujuk Risa.
Di pondokku sebenarnya tidak diperbolehkan membawa handphone, kecuali bagi santri yang sudah lulus sekolah. Mereka diperbolehkan pegang handphone, itupun dibatasi dengan jam pemakaian. Jadi meskipun nanti berpisah dengan Risa, aku tetap bisa menghubunginya.
“Ya ya udah deh.” kataku sambil menahan air mata agar tidak tumpah.
“Nah, gitu dong. Sini sini tak peluk, cup cup jangan nangis. Udah gede kok cengeng.” Aku memang terkenal mudah meneteskan air mata, apalagi jika ditinggalkan salah seorang yang kusayangi seperti Risa.
~ ~ ~
Dua tahun berlalu sejak pemboyongan sahabatku oleh orang tuanya. Saat itu aku menangis sejadi-jadinya bak anak kecil yang meminta dibelikan mainan namun tak dituruti orang tuanya. Kini, aku masih menetap di pondok. Kesibukan harianku selain kegiatan pondok adalah menghafalkan bait-bait kalamullah. Terkadang juga ikut membantu ndalem dan dapur jika di pondok sedang ada acara.
Suatu hari, Risa menelponku. Katanya dia kangen dan lusa mau ke pondok untuk menjengukku sekalian sowan ke pengasuh. Tibalah hari tersebut. Ia tampak sumringah tak karuan saat bertemu denganku, bagai bocah antusias saat diajak ke rumah kakek neneknya. Sedang aku malah meneteskan air mata.
“Yul, kamu ini gimana sih. Bukannya senang kok malah nangis sih” ujar Risa.
Sambil menyeka air mata, “Kamu lupa apa kalau aku tu cengeng, hehe.” balasku dengan senyum kecil.
“Eh, gimana kabarmu sekarang? Baik kan?”
“Alhamdulillah baik, Ris, kamu sendiri gimana?” tanyaku balik.
“Alhamdulillah sehat wal afiyat, nyatanya bisa nyampe sini ketemu sama Yulia si paling manis, hehe.” goda Risa.
“Ah, bisa saja kamu. By the way kamu tadi ke sini sama siapa? Pacarmu ya?” gantian aku yang menggodanya.
“Aku mah ga punya pacar. Aku kan setia menunggu kang Romi, hehe.” ujarnya sambil tertawa kecil.
For your information, kang Romi adalah salah seorang santri ndalem putra di pondok Al-Kugeru. Kebetulan tugas memasak untuk para santri adalah santri ndalem putra. Kebetulannya lagi, kantor tempatnya bertugas ada di kompleks asrama putri. Jadi, bukan tak mungkin Risa tau tentang santri asal kota kretek itu, bahkan ia sudah menaruh hati padanya sejak lama. Kalau dipikir-pikir, wajar saja Risa tertarik pada kang Romi. Sifatnya yang kalem dengan pembawaan sikap acuh tak acuh, ditambah dengan pesona kumis tipis menggantung di atas bibirnya, membuat klepek-klepek gadis manapun yang memandangnya. Ditambah pula, kang Romi sudah sejak lama ia diberi wadhifah oleh Abah sebagai pengajar di pondok.
“Kukira kamu sudah melupakannya, Ris. Kan kamu udah lama nggak di sini.” balasku.
“Mana mungkin aku melupakan kang Romi yang cool dan pinter itu, hahaha.”
Aku hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan sahabatku satu itu. Meski ada sedikit gejolak saat Risa tiba-tiba menyinggung kang Romi. Karena sebetulnya di lubuk hati terdalamku, ada rasa kagum pada sosok kang Romi. Menurutku, selain orangnya pintar, ia juga selalu menjaga adab dalam ber-mu’asyarah, terutama dengan ajnabiyyah.
Namun, tak ada seorang pun yang tau bahwa aku mengagumi kang Romi. Aku lebih memilih diam menyimpan perasaan tersebut. Apalagi Abah Yai sering memperingatkan agar jangan sampai mencampurkan masalah hati dalam rihlah tholabul ilmi. Sehingga aku terus menekan perasaan tersebut dan tak memperlihatkan sikap yang merepresentasikan rasa kagumku terhadap kang Romi. Lagipula, aku tak searogan itu jika berpikir kang Romi mau denganku. Jika diibaratkan, antara aku dan kang Romi terdapat sebuah jurang besar nan dalam yang dipenuhi banyak bebatuan dan hewan-hewan berbisa. Jika diibaratkan seperti kata orang, kang Romi bagaikan sama’ (langit), sedangkan aku bagaikan sumur minyak. Sejauh itulah pandanganku agar tak terjerat tipu daya setan yang menyesatkan.
~ ~ ~
Tak terasa 24 purnama terlewat, akhirnya khatam sudah hafalanku. Tak terasa pula sudah 7 tahun aku mengeyam ilmu di sini. Tiba-tiba saja aku dilanda rindu, rindu rumah, rindu pulang, rindu yang tersayang, ayah dan ibu. Mungkin karena aku jarang sekali pulang ke rumah, hanya 2 kali dalam setahun. Selain karena jarak jauh yang memisahkan, juga karena aku sudah membulatkan tekad untuk fokus ngaji dan ngabdi. Sehingga setelah semua usaha dan perjuangan, rindu yang selama ini kutekan, meledak begitu saja tanpa kurencanakan.
Tak afdhol rasanya bagi seorang santri jika tak mayoran setelah mendapat sebuah pencapaian. Maka dari itu, aku berinisiatif untuk mengadakan mayoran atas khatamnya program tahfidhku. Tak terlalu mewah, yang penting cukup untuk dinikmati semua santri putri dan sudah mewakili rasa syukur atas nikmat dan pertolongan yang Allah berikan kepadaku. Karena sejatinya segala kebaikan adalah murni anugerah dari Allah SWT.
Dengan bermodal uang saku yang telah kusisihkan, aku berencana meminta tolong kepada kang ndalem yang bertugas ke pasar untuk membelikan kebutuhan mayoran. Karena di sini memerlukan izin pengasuh jika ingin keluar pondok untuk membeli sesuatu. Entah kebetulan atau tidak, ternyata pagi itu kang ndalem yang bertugas ke pasar sedang sakit dan digantikan oleh kang Romi, sehingga aku meminta tolong kepadanya. Seperti biasa, sikapnya sopan, pandangan matanya pun ditundukkan.
“Maaf, Kang, boleh minta tolong?” ujarku.
“Minta tolong apa? Kalau bisa saya bantu.” jawab kang Romi sambil tetap menundukkan kepala.
“I-ini tolong belikan barang di pasar.” pintaku sembari memberikan sejumlah uang dan secarik kertas yang berisi daftar barang yang kubutuhkan.
“Ohh, njeh siap, Mbak. Nanti barangnya tak taruh di teras aja ya.”
“Iya, Kang, makasih sebelumnya.” jawabku.
Arghh, rasanya gugup sekali ketika berhadapan dengannya. Padahal aku sudah cukup lama di sini. Dan masih saja perasaan itu tersimpan di ruang terdalam hati. Lalu, kutepuk pipiku sendiri dan berkata dalam hati, ‘Yulia, kau tidak boleh begini. Ingat apa tujuanmu berada di sini.’ Akhirnya aku memilih bertolak ke kamar untuk istirahat sebentar karena pukul 08.00 akan diadakan sholat dhuha berjamaah dilanjut dengan membaca nadham Alfiyah.
~ ~ ~
Di suatu siang setelah jama’ah sholat dhuhur, aku diberitahu oleh Naina (fyi, salah satu santri ndalem putri) bahwa Umik memanggilku. Dalam pikiranku aku bertanya-tanya, ada apa ya Umik memanggilku? Setelah itu aku segera beranjak menuju depan pintu ndalem.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, siapa itu? Yuli? Terdengar jawaban dari dalam.
“Njeh, Umik.” Jawabku.
“Sini masuk, Nduk.”
“Njeh, Umik.”
Aku pun melangkahkan kaki ke ruang tamu sambil menjaga adab seorang santri terhadap pengasuhnya.
“Begini, Nduk, ada yang mau saya sampaikan. Kamu mau kan ikut bantu ngajar di sini?
Aku diam seribu bahasa. Aku merasa disamber gledek di siang hari karena mendengar apa yang dikatakan oleh Umik. Mengapa tiba tiba? Mengapa harus aku? Apakah aku layak? Apa tidak ada yang lain? Bukankah ayah tahun ini bermaksud untuk memintakan izin boyong? Beribu pertanyaan memenuhi benakku.
“Saya tau kamu bingung, tapi menurut Umik kamu sudah sangat layak menempati posisi itu. Kamu sudah lama di sini, toh pengetahuanmu sudah berkembang jauh sampai saat ini. Ga perlu insecure, jangan pesimis. Umik percaya kamu bisa. Tapi ini sifatnya tawaran ya, kalau kamu merasa keberatan ya tidak apa.” lanjut Umik, mungkin karena beliau sadar dengan kebimbanganku.
“Ngapunten, Umik, mohon izin untuk matur ke ayah dulu.” jawabku.
“Oh, iya silahkan, saya tunggu jawaban kamu besok malam.”
“Njeh, Umik.”
Aku pamit dengan bersalaman dan mencium tangan beliau, lalu berjalan mundur melewati batas pintu secara perlahan sambil mengucapkan salam. Setelah itu aku bertolak menuju ke pondok.
“Hey, kamu tadi dipanggil Umik ada apa?” Tegur Naina yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
“Tidak ada apa-apa, masalah kecil.” jawabku singkat.
“Alah boong, mukamu aja keliatan pucat gitu, Mbak. Kamu mau dinikahin yaaa, hahaha.” Ucapnya dengan nada menggoda.
“Eee, jangan ngaco kamu ya. Mana mungkin aku mau dinikahin, orang masih imut-imut gini kok.”
“Imut apanya, ingat umur kalii. Mbak kan juga termasuk nominasi santri putri paling sepuh, hahaha.” Ujarnya sambil lari menghindar agar tak terkena skill cubitanku.
Aku lebih memilih tidak mengejarnya dan kulangkahkan kaki menuju kamar karena ingin segera menghubungi ayahku perihal penawaran Umik tadi. Saat menelpon, aku menceritakan kronologinya secara rinci lalu meminta pertimbangan beliau selaku orang tuaku. Ayah berkata bahwa penawaran Umik tadi merupakan sebuah kesempatan emas untuk berkhidmah dan nasyrul ilmi. Adapun untuk mengatasi rasa pesimisku, ayahku memberi saran agar dijalani terlebih dahulu. Untuk kekurangan dan keterbatasan kemampuan mengajarku, nanti bisa dipelajari dan diperbaiki sambil jalan. Toh, tak ada seorang pun yang tiba-tiba bisa menguasai suatu ilmu. Pasti ada prosesnya. Yaa, kurang lebih itulah pesan yang disampaikan oleh ayah. Tak lupa, di ujung obrolan, aku juga meminta restu dan do’a dari orang tuaku.
Berbekal restu dan iringan do’a orang tua, esok harinya kuputuskan untuk matur perihal jawaban atas tawaran Umik kemarin. Maka, setelah jama’ah sholat dhuha aku segera melangkah menuju ndalem.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Siapa ya?” tanya Umik dari dalam.
“Niki Yulia, Umik.”
“Oalah, kamu to, Nduk. Gimana, Nduk?”
“Ngeten, Umik, bade ngaturi pirso bilih dinten wingi kulo sampun matur kaleh bapak. Alhamdulillah bapak kaleh ibuk paring restu dateng kulo.”
“Alhamdulillah, Nduk, bismillah ya, diniati khidmah lan nasyrul ilmi.”
“Injeh, Umik, nyuwun pangestunipun.”
“Selalu, Nduk, kamu dan santri-santri yang lain selalu saya restui dan do’akan agar diberikan keistiqomahan berbuat kebaikan dan kemanfaatan.”
“Njeh, Umik, maturnuwun sanget.”
Keputusanku hari itu, merupakan salah satu tahapan dalam hidupku menuju khoirunnas anfa’uhum linnas, tak hanya menjadi insan yang baik tapi juga bermanfaat bagi orang lain. Karena, menukil dari maqolahnya Kiai Sahal Mahfudz Allahu yarham, bahwasanya ‘Menjadi baik itu mudah. Cukup dengan diam, maka yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit adalah menjadi orang yang bermanfaat, karena itu butuh perjuangan.’
Karya: Ahabii1812, santri Mansajul Ulum.










