Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 20 Feb 2026 13:13 WIB ·

MBG: Solusi Atasi Stunting atau Proyek Pemborosan Anggaran?


 Sumber: kompasiana.com Perbesar

Sumber: kompasiana.com

KOLOM JUM’AT CXLIII
Jum’at, 20 Februari 2026

Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program yang diluncurkan oleh presiden Prabowo Subianto pada tanggal 6 januari 2025. Program tersebut pada mulanya akan diimplementasikan secara serentak ke 190 titik dari 26 provinsi yang tersebar di Indonesia dengan memakai anggaran negara sekitar 71 triliun rupiah.[1] Dengan anggaran tersebut, pada akhir tahun 2025 diharapkan dapat mencapai target 17.980.263 orang.[2]

Kegiatan ini dilatarbelakangi atas keresahan pemerintah, terhadap kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia terutama dalam hal gizi yang memburuk. Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik Indonesia melalui Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2022​, sekitar 21 juta orang di Indonesia mengalami kekurangan Gizi.[3] Problem ini dialami oleh anak-anak dan ibu hamil. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, 21,6% balita Indonesia mengalami stunting, dengan resiko tertinggi pada kelompok usia 12-23 bulan (22,4%) yang disebabkan karena kegagalan pemberian MP-ASI.[4]

Selain itu, faktor yang mempengaruhi anak kekurangan gizi yaitu kurangnya pengetahuan orang tua terhadap gizi yang harus dipenuhi, kondisi lingkungan yang buruk bahkan kondisi perekonomian yang rendah.[5] Dalam hal ini anak-anak yang kurang dalam pemenuhan gizi biasanya dalam hal pertumbuh kembangannya mengalami keterlambatan dan daya tahan tubuhnya mengalami penurunan. Sedangkan kekurangan gizi yang dialami oleh orang dewasa maka ia akan rentan terkena penyakit.

MBG Menciptakan Ekosistem Baru

Selain itu, menurut kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hidayana bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang menyerap tenaga kerja dan menghidupkan rantai pasok pangan lokal. Dadan menyebut satu unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mampu menyerap 50 tenaga kerja langsung dan melibatkan sedikitnya 15 pemasok bahan pangan. Saat ini telah terbentuk 2.391 SPPG di berbagai wilayah, dan telah menyerap sekitar 94.000 tenaga kerja, belum termasuk pekerja di sektor hulu seperti peternak dan petani.[6]

Dengan adanya SPPG ini masyarakat merasa sangat terbantu, seperti halnya di kota Surabaya, salah satu pemilik dapur SPPG, yaitu Yayuk Eko Agustin beranggapan bahwa orang yang bekerja SPPG nya sangat beraneka ragam seperti pengangguran, korban phk. Sehingga program ini dapat memberikan peluang bagi mereka untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan hariannya.[7]

Perdebatan Kebijakan MBG

Di sisi lain, untuk mendanai MBG, pemerintah melakukan efisiensi anggaran sebesar 44 Miliar USD atau senilai Rp. 750 Triliun.[8] Menyikapi hal ini, terdapat kontra dari banyak pihak, di antaranya ekonom Universitas Gajah Mada menilai bahwa MBG adalah suatu pemborosan karena  banyak tantangan yang akan dihadapi dalam implementasinya.[9]

Selain itu, menurut Transparency International Indonesia (TII) merilis bahwa dalam program ini dapat membuka ruang bagi korupsi sistemik.[10] Salah satu tantangan program ini yaitu dalam aspek distribusi dan pengadaan bahan makanan dalam program berskala nasional ini sangat beresiko mengalami pemborosan karena sifatnya yang universal, di mana anak-anak dari keluarga mampu juga menerima manfaatnya meskipun sebenarnya tidak membutuhkan. Di sisi lain, yang menjadi tantangan bagi program MBG adalah sulitnya pengawasan terhadap kualitas makanan yang diberikan oleh pihak SPPG apakah sudah sesuai dengan standar gizi yang telah ditetapkan atau belum, karena jika tidak adanya pengawasan yang ketat dampak yang terjadi pada siswa adalah keracunan makanan.

Berdasarkan data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang dikutip oleh Tempo bahwa Secara total, jumlah korban keracunan proyek MBG dari awal peluncuran hingga 12 Oktober 2025 tembus 11.566 anak.[11] Dengan adanya kasus tersebut, pemerintah perlu mengevaluasi dan mematangkan kembali terkait program MBG.

Berdasarkan hemat penulis, program MBG adalah sesuatu yang baik. Akan tetapi, dalam target penerima program ini perlu dispesifikkan kepada Daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) seperti Papua, daerah Ternate, dan sebagainya. Karena, daerah-daerah tersebut masih memiliki angka stunting dan malnutrisi yang tinggi, serta akses terhadap makanan bergizi yang terbatas.

Dengan memprioritaskan daerah-daerah tersebut, program makan bergizi gratis dapat memberikan dampak yang lebih signifikan dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, program ini juga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan hidup sehat.

Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 6 Januari 2025 merupakan salah satu upaya strategis pemerintah untuk mengatasi permasalahan gizi masyarakat Indonesia, khususnya stunting dan malnutrisi. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kesehatan masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok pangan lokal. Meskipun memiliki manfaat besar, pelaksanaan MBG menghadapi berbagai tantangan serius, seperti potensi pemborosan anggaran, risiko korupsi, distribusi yang tidak merata, serta lemahnya pengawasan kualitas makanan yang dapat berdampak buruk, termasuk kasus keracunan massal.

Karena itu, pelaksanaan program ini perlu evaluasi mendalam dan perbaikan sistem pengawasan, serta diarahkan lebih tepat sasaran, khususnya ke daerah 3T yang memiliki tingkat stunting dan malnutrisi tinggi. Pelibatan berbagai pihak — pemerintah daerah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah — menjadi kunci keberhasilan. Dengan implementasi yang efektif dan efisien, program MBG dapat memberikan dampak positif jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat, produktivitas nasional, dan pembangunan sosial-ekonomi Indonesia.

Oleh: Syauqi Fittaqi, Santri Mansajul Ulum sekaligus Mahasiswa IPMAFA Pati

 

[1] https://www.ralali.com/blog/mbg/sejarah-dan-latar-belakang-program-makan-bergizi-gratis-mbg-dari-gagasan-prabowo-hingga-gerakan-nasional-lawan-stunting/

[2] https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/article/show/pemerintah-salurkan-makan-bergizi-gratis-mbg-ini-sasaran-utama-penerimanya

[3] https://rri.co.id/kesehatan/639237/darurat-21-juta-warga-indonesia-kekurangan-gizi#:~:text=Salah%20satunya%20adalah%20akses%20terbatas,tentang%20pola%20makan%20yang%20sehat.

[4] https://rspp.co.id/artikel-detail-734-Stunting-di-Indonesia-Penyebab,-Dampak,-dan-Upaya-Pencegahan-.html

[5] https://www.alodokter.com/kenali-penyebab-anak-kurang-gizi-dan-gejala-awal-yang-timbul

[6] https://www.bgn.go.id/news/siaran-pers/tak-hanya-gizi-program-mbg-juga-tingkatkan-ekonomi-dan-buka-lapangan-kerja

[7] https://youtu.be/mNOQ-v1fS5Y?si=oRSR68waSdfE0z5C

[8] Agnes Theodora- agnes.theodora@kompas.com, “Efisiensi Anggaran Dipakai untuk MBG dan Danantara, Apa Dampaknya ke Rakyat?,” Kompas.id, February 17, 2025, https://www.kompas.id/artikel/efisiensi-anggaran-dipakai-untuk-mbg-dan-danantara-apa-dampaknya-ke-rakyat.

[9] https://ugm.ac.id/id/berita/program-mbg-dinilai-berisiko-pemborosan-sebaiknya-diprioritaskan-pada-anak-keluarga-kurang-mampu/

[10] https://ti.or.id/program-makan-bergizi-gratis-dikepung-risiko-korupsi-sistemik/

[11]https://www.tempo.co/politik/korban-keracunan-mbg-capai-1-084-orang-dalam-sepekan-terbanyak-di-ntt-2079024

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 86 kali

Baca Lainnya

Pengaruh Motivasi Belajar dan Dampak Brain Rot terhadap Capaian Belajar Santri

6 Maret 2026 - 15:06 WIB

Mengikisnya Makna Norma Sosial

6 Februari 2026 - 14:38 WIB

Indonesia Emas 2045: Antara Visi dan Patologi Birokrasi

23 Januari 2026 - 16:30 WIB

Menara Kudus: Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Lokal yang Harmonis

9 Januari 2026 - 14:23 WIB

Nahwu dan Shorof: Pondasi Utama Memahami Kitab Salaf

26 Desember 2025 - 13:12 WIB

Film ‘Bid’ah’ dan Realitas Pesantren: Kritik, Fakta, dan Jalan Keluar

12 Desember 2025 - 13:11 WIB

Trending di Kolom Jum'at