Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 29 Mei 2026 13:10 WIB ·

Siapa yang Sebenarnya Berkorban? Menilik Jejak Bias Gender di Hari Raya Kurban


 Siapa yang Sebenarnya Berkorban? Menilik Jejak Bias Gender di Hari Raya Kurban Perbesar

KOLOM JUMAT CXLXI
Jumat, 29 Mei 2026

Selain sebagai momentum spiritual, Hari raya Idul Adha juga mempunyai dampak sosial yang sangat signifikan. Praktek kurban menjadi sebuah instrumen sosial untuk memperkuat solidaritas, menjaga ketahanan pangan, dan mempraktikkan nilai-nilai kesetaraan dalam masyarakat. Namun, praktek kesetaraan dalam momentum ini masih sangat rendah bahkan terabaikan. Laki-laki masih mendominasi ruang-ruang publik, sedangkan perempuan cenderung dibatasi pada peran domestik.

Laki-laki seringkali lebih aktif dalam kepanitiaan kurban, seperti menyembelih, membagi, dan mendistribusikan hewan kurban. Sedangkan peran perempuan jarang terlihat dalam perayaan ini. Mereka cenderung berada di ranah domestik dan hanya sebagai penerima hewan kurban. Bahkan orang yang berkurban juga didominasi oleh laki-laki karena merekalah yang cenderung bekerja dan berhak untuk berkurban. Dibandingkan dengan perempuan yang tidak bekerja dan tidak berdaya kalau ingin berkurban karena keterbatasan ekonomi pribadinya. Dalam ritual ibadah pun perempuan dibatasi. Ada beberapa daerah yang sholat Idul Adha didominasi oleh laki-laki saja, karena mungkin keterbatasan tempat atau menganggap perempuan di rumah saja tidak perlu pergi untuk menunaikan ibadah sholat Id.

Selain itu banyak konten-konten pelecehan yang mewarnai media di tengah perayaan Idul Adha. Setiap Idul Adha, perempuan kembali dijadikan simbol pengorbanan. Harus rela dipoligami, harus mengalah dan harus memahami laki-laki, karena catatan sejarah bahwa Siti Hajar dan Siti Sarah rela untuk dipoligami. Contohnya gambar perempuan-perempuan berjilbab bertuliskan “Siap berkurban untuk abang” atau ”Sarah dan Hajar saja mau dipoligami, kok kamu nggak” serta tulisan-tulisan yang bernada melecehkan perempuan. Hal ini membuktikan bahwa makna Idul Adha dan narasi sejarah yang beredar adalah narasi-narasi yang bias gender.[1]

History vs herstory

Narasi kurban yang disampaikan oleh penceramah/mubalig umumnya berfokus pada dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Ismail melalui mimpi. Dialog antara ayah dan anak pun terjadi, menceritakan mimpi Ibrahim kepada sang anak dan Ismail mengizinkan ayahnya menjalankan perintah Sang Khalik tanpa rasa ragu. (QS. Ash-Shaffat: 102)

Di jabal kurban, Ibrahim membaringkan Ismail di atas batu dan pedang siap diayunkan untuk menjalankan perintah Allah. Namun Allah berkehendak lain, Ismail diganti dengan seekor hewan. Sehingga Ibrahim tidaklah menyembelih Ismail tetapi seekor hewan (QS. Ash-Shaffaat: 103-107)

Kisah Ibrahim dan Ismail menjadi penanda sejarah kurban, ibadah dalam bentuk menyembelih hewan ternak. Penyembelihan hewan kurban adalah simbol mendekatkan diri pada tuhan sebagai bentuk ketakwaan (QS. Al-Hajj: 36-37).

Demikianlah kisah kurban selalu kita dengar berulang setiap tahunnya. Sebuah dialog antara tuhan, Ibrahim, dan Ismail. Sejarah yang cenderung menempatkan kaum laki-laki yang meng-hegemonik (berkuasa). Lalu kisah Idul adha dalam bingkai kehidupan Ibrahim menempatkan perempuan sebagai aktor pelengkap atau mengecilkan perannya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sejarah ini, namun cara kita memandang sejarah akan menghasilkan aliensi epistimologis dan aliensi simbolik yang menjadi bagian dari langgengnya kekerasan berbasisi gender pada saat ini.[2]

Peran krusial Siti Hajar yang membesarkan Ismail seorang diri di Makkah serta pengorbanan Siti Sarah yang merestui pernikahan suaminya seringkali diabaikan atau dihilangkan dari narasi sejarah, bahkan dinarasikan dengan pandangan bias gender. Maka dari itu kita perlu mengkaji ulang historis Idul Adha dan memandangnya dengan pandangan yang adil gender.

Untuk menghindar dari raja mesir yang pada zaman itu terkenal doyan mengambil istri-istri yang cantik, Sarah berbohong dengan mengatakan sebagai adik Ibrahim, bukan istri. Ia juga berkorban untuk mengizinkan Ibrahim menikahi Hajar agar mendapatkan keturunan karena Ibrahim telah berusia 100 tahun.[3] Ini adalah bentuk pengorbanan luar biasa dari seorang perempuan yang mencintai pasangannya.

Di sisi lain, Siti Hajar yang telah dikaruniai seorang putra harus merawat Ismail seorang diri karena Ibrahim harus pergi menemani Sarah yang melahirkan Ishaq. Pengorbanan Hajar membesarkan Ismail menjadi penanda kerasnya kehidupan di Makkah serta bentuk nyata perempuan yang hanya menjadi nomor dua di sebuah hubungan. Pengorbanan lainnya adalah ketika perintah kurban datang, Hajarlah yang mengasah pedang dan memastikan pedang tersebut benar-benar tajam agar tidak menyakiti anak kesayangannya. Sebuah pengorbanan luar biasa dari tangan yang membesarkan Ismail selama tujuh tahun tanpa suami, tangan itu pula yang mengasah pedang.[4]

Pengaburan sejarah perempuan dalam peringatan hari raya kurban menjadi penanda tidak dianggapnya kisah perempuan dalam tiap sejarah manusia. Simone de Beauvoir pernah menyebutkan bahwa perempuan sebagai second sex. Sebagai jenis kelamin kedua di dunia, tentu saja sejarah perempuan dianggap tidak perlu dibahas dan didengar.

St. Sunardi dalam Mencari Profil Pendidikan Kritis mengisahkan bagaimana Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis di negara-negara Amerika Latin senantiasa menuliskan bait-bait manusia dengan kata “man”. Kata-kata ini yang kemudian ditentang Abha Bhaiya dan Kalyani Menon Sen sebagai tanda menghilangkan sejarah perempuan, karena selalu mengidentifikasi manusia sebagai laki-laki. Perilaku ini yang tampaknya dilakukan sejarawan muslim ketika menulis dan menceritakan sejarah masa lalu dengan tokoh utama laki-laki, tanpa perempuan.

Munculnya kekerasan epistemologis dalam bingkai Idul Adha juga diakibatkan oleh dihapuskannya dua narasi yang mengesampingkan pentingnya peran perempuan di dalamnya. Narasi pertama berkaitan dengan pentingnya peran Hajar RA dalam membesarkan dan mendidik Ismail AS hingga menjadi pribadi yang taat dan patut menyandang gelar kenabian. Perspektif patriarki yang mendominasi latar belakang sejarah Idul Adha lebih menampilkan Ismail AS dengan kesempurnaan keimanan, daripada sebuah gambaran seorang anak yang tumbuh dari kehadiran ibu yang mendidik dan membesarkan dengan susah payah.[5]

Narasi yang kedua adalah dominasi perspektif patriarki dalam dinamika hubungan antara ibrahim AS, Sarah RA, dan Hajar RA. Konstruksi ibrahim sebagai model ketaatan absolut   pengorbanan Ismail AS membuat kita lepas dari dinamika sejarah dan konteks sosial, politik dan budayanya. Di mana melatarbelakangi hubungan Ibrahim dengan istrinya Sarah dan selirnya Hajar diasumsikan sejajar dengan ketaatannya kepada Allah. Asumsinya adalah, jika ia dapat mengabdikan dirinya kepada Allah sampai rela menyembelih putranya sendiri, maka sangatlah mungkin ia akan menyakiti istri dan selirnya. [6]

Hal inilah yang menjadikan masyarakat salah kaprah dalam memaknai peristiwa Idul Adha. Menganggap bahwa perempuan boleh dan dengan sukarela setuju untuk dipoligami. Terkenal sebagai makhluk yang lemah dan sudah seharusnya selalu menaati perintah dari laki-laki atau pasangan hidupnya. Pemaknaan yang bias seperti inilah yang mengakibatkan rawannya pelecehan seksual, terutama di dunia maya, karena masyarakat masih terbelenggu dengan pandangan yang patriarki atau  pandangan yang merendahkan perempuan.

Jika narasi-narasi yang bias gender masih saja menjadi ikon Idul Adha atau dalam sejarah-sejarah Islam lainnya, maka perempuan akan selalu diposisikan dalam derajat yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Seperti menciptakan pandangan bahwa perempuan adalah second citizen yang hak suaranya dianggap tidak sepenting laki-laki, membatasi akses dan partisipasi di ruang publik terutama di ruang-ruang keagamaan, dan melanggengkan stereotip dan labelisasi negatif.

Hal ini sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran dalam agama Islam. Dalam Al-Quran tidak ada pembedaan antara perempuan dan laki-laki. Mereka memiliki persamaan sebagai makhluk ciptaan Allah, kecuali dibedakan dari taqwanya (QS. al-Hujurat [49]: 13); persamaan beban dan tanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan melakukan kerja-kerja positif (QS. an-Nahl [16]: 97); dan juga sama-sama menjadi khalifah di muka bumi yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memakmurkan bumi. [7]

Oleh karena itu, menolak narasi bias adalah bagian dari upaya menegakkan keadilan dan kesalingan yang menjadi inti ajaran agama Islam. Dengan tidak menyetujui narasi tersebut dan menyebarkan narasi yang adil kita memberikan ruang bagi tumbuhnya kesadaran kolektif yang lebih adil, di mana setiap individu dihargai berdasarkan kemampuannya, bukan dibatasi oleh konstruksi gender yang sempit.

Penulis: Putri Nadillah, Redaktur EM-YU.


[1] Yulianti Muthmainnah, perjuangan perempuan dalam sejaha kurban      https://mediaindonesia.com/opini/592975/perjuangan-perempuan-dalam-sejarah-kurban#google_vignette

[2] Rosita Alting idul adha: refleksi perjuangan perempuan https://pikiranpost.com/2025/06/04/idul-adha-refleksi-perjuangan-perempuan/

[3] Yulianti Muthmainah, Perempuan & Peradaban Catatan Kritis Aktivis Perempuan https://psipp.itb-ad.ac.id/wp-content/uploads/2020/03/BUKU-Ka-Yuli.pdf

[4] Ibid

[5] Laylatul Fittriyah, Perempuan sebagai Kurban Kemanusiaan; Sebuah Refleksi Idul Adha ttps://indoprogress.com/2020/08/perempuan-sebagai-kurban-kemanusiaan-sebuah-refleksi-idul-adha/

[6] Ibid

[7] Yulianti Muthmainah, Perempuan & Peradaban Catatan Kritis Aktivis Perempuan https://psipp.itb-ad.ac.id/wp-content/uploads/2020/03/BUKU-Ka-Yuli.pdf

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 90 kali

Baca Lainnya

Jejak Kiai Sahal Mahfudh: Menghidupkan Ijtihad di Tengah Kompleksitas Zaman

12 Juni 2026 - 12:37 WIB

Qunut Nazilah, Hukum dan Sejarah Lahirnya

15 Mei 2026 - 13:19 WIB

Negara Gagal, Rakyat Bertindak: Fenomena ‘Beli Hutan’ sebagai Kritik Sosial

1 Mei 2026 - 13:39 WIB

Santri di Pusaran Birokrasi: Mampukah Menjadi Penawar Krisis Integritas? 

17 April 2026 - 13:28 WIB

Brain Rot Usai Liburan: Mengapa Kita Sulit Lepas dari Jebakan Gadget?

3 April 2026 - 15:07 WIB

Silaturahmi: Tinjauan Hadis dan Psikologis tentang Umur Panjang

20 Maret 2026 - 11:07 WIB

Trending di Kolom Jum'at