Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 26 Des 2025 13:12 WIB ·

Nahwu dan Shorof: Pondasi Utama Memahami Kitab Salaf


 Sumber: deepublishstore.com Perbesar

Sumber: deepublishstore.com

KOLOM JUM’AT CXXXIX
Jum’at, 26 Desember 2025

Di dunia pesantren salaf, ilmu Nahwu dan Shorof menjadi sebuah materi pembelajaran sehari-hari bagi kalangan santri. Kedua ilmu tersebut merupakan kunci untuk membuka gembok cabang ilmu-ilmu agama yang lainnya. Karena urgensi ilmu ini, seorang ulama’ mengatakan bahwa Nahwu adalah bapak dari sebuah ilmu dan shorof sebagai ibunya. Apabila kedua ilmu tersebut dipadukan, maka nantinya akan melahirkan banyak ilmu-ilmu yang lainnya.

Syams al-Din Ahmad yang masyhur dengan julukan Syekh Dikunquz dalam kitab Syarhaani ‘ala al-maroohi fii ‘ilmi al-shorfi menjelaskan, “Ilmu nahwu merupakan sebuah ilmu yang menjelaskan perpindahan harokat akhir suatu kalimat yang ditinjau dari segi i’rob dan bina’. Ilmu nahwu dikatakan bapaknya ilmu karena miripnya ilmu nahwu dengan seorang bapak.” (Syarhaani ‘ala al-maroohi fii ‘ilmi al-shorfi hal. 3)

Adapun kemiripan Ilmu Nahwu dengan seorang ayah ini dilihat dari cara mendidiknya. Sebagaimana seorang ayah, mendidik anak-anaknya melengkapi peran dari seorang ibu, begitu pun dengan ilmu Nahwu untuk menyempurnakan dalam membaca lafadz-lafadz Bahasa Arab. Seperti contoh pada lafadz يَضْرِبُ, ilmu Nahwu hanya berperan dalam pembacaan harakat di huruf ba’, selebihnya di ilmu Shorof. 

Syekh Abdul Wahhab Bin Ibrohim Az-Zanzany Al-Huzroji Al- Hurosani dalam kitabnya Matan Tashrif Al-‘Izzy menjelaskan, “Ilmu shorof merupakan ilmu yang menjelaskan tentang perpindahan asal dari satu kalimat ke dalam bentuk kalimat yang lain agar bisa mendapatkan sebuah makna yang dikehendaki, karena suatu makna tersebut tidak bisa tercapai kecuali dengan adanya perpindahan.” (Matan Tashrif Al-‘Izzy hal. 2). 

Ilmu Shorof mendapatkan julukan sebagai ibunya ilmu karena miripnya ilmu shorof dalam segi melahirkan. Sebagaimana seorang ibu melahirkan anak-anaknya, begitupun ilmu shorof yang mampu melahirkan berbagai macam arti untuk menjelaskan sebuah ilmu. Syekh Muhammad Ma’sum bin Ali dalam kitabnya al-amtsilah at-tashrifiyah menjelaskan bahwa, kata pukulan dalam ilmu Shorof bisa dikembangkan untuk memiliki arti sudah memukul ketika menjadi fi’il madhi. Baru atau mau memukul ketika menjadi fi’il mudhori’. Orang yang memukul ketika menjadi isim fa’il. Orang yang dipukul ketika menjadi isim maf’ul. Pukulah ketika menjadi fi’il amar. Waktu memukul ketika menjadi isim zaman. Tempat memukul ketika menjadi isim makan. Terakhir, alatnya memukul ketika menjadi isim alat.

Dari ilmu shorof, sebuah lafadz juga mampu memiliki banyak arti. Seperti lafadz يضرب dari bentuk huruf yang sama bisa memiliki arti yang berbeda-beda. Lafadz tersebut bisa berarti memukul dalam bentuk fi’il mudhari’ mabni ma’lum dan bermakna dipukul dalam bentuk fi’il mudhari’ mabni majhul. Bentuk lain dari unsur lafadz ini adalah يُضْرِبُ berwazan اَفْعَلَ – يُفْعِلُ yang artinya memukulkan.

Untuk melahirkan ilmu-ilmu yang lain, kedua ilmu tersebut harus selalu berjalan beriringan. Seseorang tidak bisa jika hanya fanatik dengan salah satu dari kedua ilmu tersebut untuk memahami berbagai macam ilmu agama. Sebagaimana di dalam keluarga, sepasang suami istri harus sama-sama saling bekerja sama untuk mendidik agar mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi sukses. 

Peran mendidik anak bukanlah hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu, melainkan juga seorang bapak. Kasih sayang suami istri harus saling berimbang untuk pertumbuhan kesuksesan anak. Melansir dari halodoc.com, seorang ayah adalah sosok yang penuh kasih sayang yang mampu mempengaruhi perkembangan kognitif dan sosial anak. Di dalam keluarga, seorang ayah dapat menjadi role model bagi anak, pelindung dan penyedia kebutuhan anak, serta pelengkap simulasi perkembangan dari seorang anak.

Peran ibu juga tak kalah pentingnya bagi seorang anak. Melansir dari fimela.com, peran kasih sayang ibu dalam pertumbuhan anak tidak hanya baik untuk hati dan jiwa anak, tetapi juga untuk menyehatkan otak. Sebagaimana sebuah hasil penelitian  tentang depresi masa kanak-kanak yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Washington terhadap seratus anak usia 7-10 tahun yang mengatakan bahwa mereka yang ibunya paling mendukung dalam pengasuhan memiliki hippocampus (area otak yang terlibat dalam memori dan pembelajaran) yang lebih besar daripada anak yang memiliki ibu yang kurang mendukung. Keduanya merupakan kunci perkembangan masa kanak-kanak dan kinerja akademis di sekolah.

Peran suami istri untuk mendidik anak ini sangat mirip dengan kegunaan ilmu nahwu dan shorof. Kita akan mampu menguasai berbagai macam ilmu agama jika kita memang benar-benar bisa menerapkan ilmu Nahwu dan Shorof. Karena tanpa menguasai ilmu nahwu dan shorof, tidak menutup kemungkinan kita dapat menjadi salah paham mengartikan sebuah lafadz dalam bahasa Arab. 

Semisal di dalam bahasa arab terdapat sebuah kalimat, 

من قال تحت شجرة بطل وضوؤه

Tanpa mempelajari ilmu Shorof, mungkin saja kita akan mengambil kesimpulan lafadz tersebut memiliki arti “Barang siapa yang berbicara di bawah pohon, maka batal wudhunya”. Jika kita lihat di dalam berbagai kitab salaf, tidak ada satupun keterangan yang menjelaskan bahwa berbicara di bawah pohon itu dapat membatalkan wudhu. Mungkin kalau kita tidak mempedulikan ilmu shorof kita akan beranggapan bahwa lafadz tersebut itu tidak benar.  

Dalam kamus At-Taufiq halaman 536, terdapat sebuah penjelasan bahwa قال memiliki arti tidur di siang hari. Lafadz tersebut diambil dari lafadz قَيْلٌ , yaitu قَالَ – يَقِيْلُ – قَيْلٌ – وَقَيْلُوْلَةٌ  yang berarti tidur di siang hari. Dengan demikian, arti dari lafadz tersebut adalah “Barang siapa yang tidur siang hari di bawah pohon maka batal wudhunya”.

Begitupun sebaliknya, seseorang yang hanya memahami ilmu Shorof juga dapat salah mengartikan tanpa dibersamai memahami ilmu Nahwu. Seperti di dalam memahami sebuah kalimat,

من توضؤ ببول الكلب صحت وضوؤه

Tanpa pemahaman ilmu nahwu, mungkin saja kita akan mengartikan kalimat tersebut “Barang siapa yang berwudhu menggunakan air kencing anjing, maka wudhunya sah”. Bukanya sangat fatal kesalahan tersebut. Anjing merupakan seekor hewan yang apabila menyentuhnya harus bersuci sebanyak tujuh kali basuhan dengan salah satu basuhan tersebut harus menggunakan debu. Apalagi ketika kita terkena air kencingnya. Sudah dipastikan air kencing anjing tidak termasuk di dalam salah satu jenis air yang dapat sah untuk digunakan bersuci, kenapa orang yang berwudhu dengan air tersebut bisa sah wudhunya. 

Kesalahan tersebut terjadi apabila kita menyepelekan akan pentingnya ilmu Nahwu untuk mempelajari gramatikal Bahasa Arab. Di dalam kitab Mausu’ah an-Nahwu wa as-Shorfi wa al-I’rob halaman 185, terdapat sebuah penjelasan mengenai huruf ba’. Huruf ba’ pada lafadz tersebut masuk di dalam kategori huruf jer. Di dalam huruf jer, tersimpan berbagai macam faidah untuk diterapkan pada sebuah kalimat. 

Huruf jer ba’ yang terdapat pada kalimat tersebut memiliki faedah al-Ilshoq atau menempel. Kemudian lafadz توضؤ merupakan sebuah kalimat fiil madhi yang menunjukkan waktu sudah terjadi atau telah selesai berwudhu. Arti dari lafadz tersebut yang benar seharusnya “Barang siapa yang sudah berwudhu kemudian menyentuh air kencing anjing, maka wudhunya tetap sah”.

Sebagai seorang santri yang selalu bergelut dengan kitab salaf, sudah seharusnya untuk memahami ilmu Nahwu dan Shorof agar nantinya mampu menguasai ilmu agama yang lain. Tanpa mempelajari ilmu Nahwu dan Shorof, sangat besar kemungkinan untuk kita salah dalam mengartikan kalimat di dalam gramatikal Bahasa Arab. Wallahu A’lam. 

Oleh: Muhammad Sholihul Huda, Redaktur EM-YU.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 207 kali

Baca Lainnya

Menara Kudus: Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Lokal yang Harmonis

9 Januari 2026 - 14:23 WIB

Film ‘Bid’ah’ dan Realitas Pesantren: Kritik, Fakta, dan Jalan Keluar

12 Desember 2025 - 13:11 WIB

Imam Ghazali: Menakar Legitimasi Pemimpin di Tengah Krisis Kekuasaan

28 November 2025 - 12:12 WIB

Hakikat Dermawan: Mendahulukan Orang Lain di Atas Diri Sendiri

14 November 2025 - 14:29 WIB

Aktualisasi Fikih dalam Merawat Kebangsaan dan Kebinekaan: Menghubungkan Agama dan Harmoni Sosial 

31 Oktober 2025 - 11:25 WIB

Sumber: https://ypsa.id/

Pesantren Bukan Sarang Feodalisme

17 Oktober 2025 - 15:23 WIB

Trending di Kolom Jum'at