Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 6 Mar 2026 15:06 WIB ·

Pengaruh Motivasi Belajar dan Dampak Brain Rot terhadap Capaian Belajar Santri


 Pengaruh Motivasi Belajar dan Dampak Brain Rot terhadap Capaian Belajar Santri Perbesar

KOLOM JUM’AT CXLIV
Jum’at, 6 Maret 2026

Pada tanggal 21 September 2025 lalu, perwakilan santri putri mansajul ulum mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Psikologi Pesantren” yang diselenggarakan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pati. Tujuan diadakannya FGD ini untuk menggali permasalahan-permasalahan yang dialami oleh pengasuh atau ustadzah saat mendampingi santri, terutama permasalahan dalam hal psikologi. Dalam forum tersebut, delegasi pondok mansajul ulum mengungkap bahwa permasalahan yang umum dialami oleh santri adalah penurunan capaian akademik. Hal ini terbukti pada kurangnya kapasitas daya tangkap santri dalam memahami pembelajaran di pesantren, terutama santri-santri baru yang pada dasarnya masih awam dengan materi-materi di pesantren.

Dalam kacamata psikologi, faktor utama yang melatarbelakangi penurunan capaian akademik adalah menurunnya motivasi belajar. Motivasi adalah usaha yang mendasari seseorang untuk terdorong melakukan sesuatu perbuatan, menentukan arah perbuatan sehingga tercapai suatu hasil atau tujuan tertentu (Adha et al., 2023). Motivasi memegang peranan penting dalam proses belajar karena berfungsi memberikan dorongan semangat untuk mencapai tujuan tertentu. Secara umumnya, motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal (Sari, 2025). Motivasi internal adalah motivasi yang muncul dari diri sendiri, seperti kepuasan pribadi karena telah memahami sesuatu atau memiliki kesesuaian minat, sehingga ia bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan. Sementara itu, motivasi eksternal berasal dari dukungan sosial atau penghargaan, termasuk dukungan dari orang tua. Melemahnya motivasi belajar, baik yang bersumber dari dalam diri maupun dari luar menjadi penyebab umum merosotnya capaian akademik santri. 

Seringkali santri kehilangan motivasi belajar ketika menghadapi pelajaran yang dianggap sulit atau tidak menarik. Sebagian santri merasa malas menjalani rutinitas di pesantren karena kurangnya minat dalam mempelajari ilmu di pesantren, seperti kitab kuning. Biasanya mereka menganggap bahwa mereka tidak memiliki kesesuaian bidang dalam mempelajari ilmu-ilmu di pesantren. Selain itu, kurangnya pemahaman tentang tujuan belajar di pesantren seperti halnya menghafal. Hafalan adalah tanggung jawab setiap individu, namun banyak dari mereka kehilangan semangat karena merasa hafalannya sulit atau daya ingatnya lemah. Ditambah lagi, seringkali santri merasa capek dengan padatnya kegiatan harian. Akibatnya, mereka merasa bosan ketika belajar dan lebih memilih bermain dengan hal-hal yang bisa dengan cepat memberikan rasa senang.

Selain rendahnya motivasi belajar, penggunaan gadget secara berlebihan juga dapat mempengaruhi minat belajar seseorang. Gadget merupakan teknologi super canggih yang di dalamnya memuat banyak fungsi. Di antaranya sebagai sarana komunikasi, sumber informasi, dan media hiburan. Di era serba digital ini, gadget sangat memudahkan segala akses. Namun, terdapat sisi negatifnya yaitu bisa membuat pengguna lupa waktu karena banyaknya hiburan yang disajikan, mulai dari game, film, hingga konten-konten pendek. Meskipun pesantren tidak menyediakan fasilitas khusus untuk penggunaan gawai, dampak negatif ini tetap menjadi masalah krusial. Hal ini terjadi karena intensitas penggunaan gawai yang tinggi di luar pondok, misalnya saat liburan.

Dampak penggunaan gadget ini bisa disebabkan karena bawaan dari rumah. Seperti tidak adanya pengontrolan dalam penggunaan gadget. Ketika seseorang menggunakan gadget untuk bermain game, scrolling media sosial, atau menonton film, ia akan merasakan sensasi kepuasan sesaat namun dilakukan secara berulang hingga tanpa terasa banyak waktu yang terbuang. Aktivitas ini bisa mempengaruhi sistem kerja otak. Sebab menjadikan otak cenderung terbiasa memperoleh sesuatu secara instan. Kemudian, ketika dihadapkan pada hal-hal yang membutuhkan konsentrasi dan berpikir penuh, otak akan merasa jenuh atau cepat lelah. Fenomena ini disebut dengan brain rot. 

Dilansir dari laman Halodoc.com, brain rot adalah kondisi di mana otak mengalami penurunan fungsi kognitif akibat kecanduan gadget atau digital. Kondisi ini mengakibatkan otak malas berpikir dan mudah terdistraksi, sebab terlalu sering terpapar konten-konten instan dari gadget. Fenomena ini juga menjadi faktor krusial yang memperparah menurunnya motivasi, baik secara internal (melemahnya konsentrasi) maupun eksternal (distraksi lingkungan).

Oleh karena itu, dibutuhkan upaya secara menyeluruh untuk menjaga motivasi belajar dan mengubah gaya hidup santri agar tidak ketergantungan pada digital. Melihat penurunan capaian akademik santri banyak dipicu oleh menurunnya motivasi dan dampak brain rot, maka membutuhkan langkah-langkah strategis yang berfokus mengatasi kedua faktor utama tersebut. 

Langkah-langkah yang bisa dilakukan pertama adalah menentukan target atau tujuan yang jelas dalam belajar. Memiliki tujuan yang jelas adalah langkah awal untuk meningkatkan motivasi belajar. Pelajar perlu mengetahui apa yang ingin dicapai dalam setiap sesi belajar atau jangka waktu tertentu.

Kedua, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Membersihkan dan merapikan tempat belajar agar tercipta suasana yang nyaman. Selain itu, dalam konteks ini tidak hanya sekedar lingkungan nyaman dalam hal kebersihan tetapi juga lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang positif untuk mendukung perkembangan diri. Hindari lingkungan yang tidak mendukung self-growth, seperti lingkungan pertemanan yang cenderung malas, sulit diajak berkembang. Sejalan dengan pandangan ini, Imam Az-Zarnuji dalam kitabnya Ta’limul Muta’allim, bahwa seorang thalibul ilmi harus bisa memilih lingkungan pertemanan yang baik, sebab teman bisa mempengaruhi karakter seseorang. 

Ketiga, musyawarah atau belajar bersama teman. Di pesantren biasa diajarkan belajar dengan metode musyawarah. Seperti membaca kitab dengan cara berdiskusi. Metode ini lebih meringankan seorang santri dalam belajar daripada belajar sendiri. Misalnya, ketika sedang tidak memahami suatu materi, maka teman yang lain akan memberi pemahaman. Beberapa santri mengaku lebih bersemangat belajar jika ada temannya. 

Keempat, menjaga konsistensi dan ketekunan dalam belajar. Konsisten belajar atau tekun merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu. Tidak harus belajar dalam durasi yang lama hingga memforsir diri secara berlebihan. Imam Az Zarnuji menyarankan belajar dengan metode yang lembut (bil-rifqi). Dua kali dua lebih baik dari pada empat kali satu. 

Metode belajar paling efektif adalah dengan mengulang pelajaran hari ini terlebih dahulu, baru mempelajari materi untuk besok. Senada dengan hal tersebut, Ibu Nyai Umdatul Baroroh, Pengasuh pesantren, seringkali memberi pesan terhadap santri yang memiliki hafalan, bahwa cara menghafal yang efektif adalah dengan melancarkan hafalan lama terlebih dahulu baru menambah hafalan yang baru. Hal ini dianjurkan dilakukan secara konsisten, sebab memulai dengan hafalan baru terlebih dahulu malah lebih susah untuk mengingat hafalan sebelumnya. 

Kelima, istirahat sejenak. Luangkan waktu beberapa menit untuk mengistirahatkan otak, misalnya dengan berjalan di sekitar halaman melihat hijau-hijaun, memakan cemilan, mendengarkan musik, atau bermain dengan hewan piaraan. Keenam, Memberi penghargaan untuk diri sendiri atau dalam bahasa modernnya adalah self reward, yaitu dengan cara memberikan hadiah atau hal menarik ketika berhasil mencapai sesuatu. Tidak perlu dengan sesuatu yang mahal, cukup dengan melakukan hal-hal yang disukai, seperti menjalankan hobi, menyantap makanan kesukaan, menonton film, jalan-jalan. Metode ini cukup efektif untuk meningkatkan semangat belajar, karena seseorang akan merasa ‘Aku mampu. Aku harus bisa melakukannya’. Ketujuh, hindarkan benda-benda yang menimbulkan distraksi ketika belajar, seperti gadget, laptop, televisi atau alat elektronik lainnya selama sesi belajar berlangsung.

Di era serba digital ini, sangat sedikit kemungkinannya seseorang benar-benar tidak bergantung pada teknologi, terlebih gadget. Hampir semua orang memiliki gadget. Oleh karena itu, solusi dalam penggunaannya adalah mengatur batasan waktu, bukan benar-benar tidak menggunakannya. Untuk mengatasi brain rot, santri bisa ubah pola penggunaan gadget dengan lebih produktif, misalnya mengatur waktu untuk scroll berapa menit, selebihnya bisa diubah dengan mendengarkan podcast yang bisa mengupgrade diri, mengikuti pelatihan online, membaca e-book, olahraga dan masih banyak cara agar santri tidak terjebak dalam zona scroll media sosial tidak produktif. 

Solusi selanjutnya yang paling penting adalah memperbanyak interaksi sosial di dunia nyata. Sebab kebanyakan orang yang mengalami brain rot cenderung anti sosial. Melansir dari akun youtube @kanalpsikologiugm, brain rot bisa dicegah dengan memperbanyak interaksi sosial, mengurangi screen time dengan cara mengganti media yang bisa digunakan secara manual, seperti memperbanyak melakukan gerakan motorik. Kemudian, membaca buku. Membiasakan tenang dan merefleksi dan yang terakhir adalah berolahraga

Belajar adalah hal yang membutuhkan proses yang lama. Menukil pendapat Imam Az Zarnuji, mencari ilmu membutuhkan waktu yang lama (thuluz zaman), bahkan seumur hidup. Oleh karena itu, dalam berproses membutuhkan kesabaran. Sabar bukan berarti stagnan dan pasrah, tetapi bertahan sambil terus berjalan. 

Di dalam proses belajar terdapat tiga tahap, yaitu input – proses – output. Seseorang yang sudah di tahap proses, meskipun belum menghasilkan output yang nyata sudah dianggap berhasil, sebab dia mampu bertahan dan berjuang. Belajar sama dengan proses menerima input pengetahuan dari guru atau dari buku bacaan. Ketika belum terlihat hasilnya bukan berarti apa yang dipelajari selama ini sia-sia. Kita tetap berhasil di proses belajar. Kegagalan hanya didapat oleh orang yang menyerah dan tidak mau mencoba. Penting ditekankan bahwa pemahaman tidak harus datang sekarang, melainkan bisa jadi baru diberikan saat sudah terjun di masyarakat. Oleh karena itu, hal terpenting adalah pelajari semuanya dan jangan pernah menyerah.

Oleh: Manggar Eka R, Redaktur EM-YU.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 68 kali

Baca Lainnya

Santri di Pusaran Birokrasi: Mampukah Menjadi Penawar Krisis Integritas? 

17 April 2026 - 13:28 WIB

Brain Rot Usai Liburan: Mengapa Kita Sulit Lepas dari Jebakan Gadget?

3 April 2026 - 15:07 WIB

Silaturahmi: Tinjauan Hadis dan Psikologis tentang Umur Panjang

20 Maret 2026 - 11:07 WIB

MBG: Solusi Atasi Stunting atau Proyek Pemborosan Anggaran?

20 Februari 2026 - 13:13 WIB

Mengikisnya Makna Norma Sosial

6 Februari 2026 - 14:38 WIB

Indonesia Emas 2045: Antara Visi dan Patologi Birokrasi

23 Januari 2026 - 16:30 WIB

Trending di Kolom Jum'at