Menu

Mode Gelap

Kolom Jum'at · 20 Mar 2026 11:07 WIB ·

Silaturahmi: Tinjauan Hadis dan Psikologis tentang Umur Panjang


 Silaturahmi: Tinjauan Hadis dan Psikologis tentang Umur Panjang Perbesar

KOLOM JUMAT CXLIVI

Jumat, 20 Maret 2026

Di Indonesia, perayaan Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan secara spiritual, tetapi juga momentum untuk meningkatkan social engagement di kalangan masyarakat. Hal ini telah menjadi tradisi sosial yang sangat kental dengan nilai kebersamaan. Masyarakat memanfaatkan kesempatan ini untuk berkumpul bersama keluarga besar, saling berkunjung dari rumah ke rumah, serta mempererat kembali hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan sehari-hari. Terdapat sebuah hadis sahih yang mengatakan bahwa selain dapat melancarkan rezeki seseorang, silaturahmi juga dapat memperpanjang umur orang tersebut.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan (sisa) umurnya, maka sambunglah (tali) kerabatnya”

Selain hadis di atas, terdapat sebuah kisah yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman As-Shafuri dalam kitabnya Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafais bahwa suatu ketika ada dua orang lelaki bertamu kepada Nabi Daud AS. Bersamaan dengan itu, malaikat pencabut nyawa Izrail menginformasikan kepada Nabi Daud AS bahwa salah satu dari mereka akan diambil nyawanya tujuh hari lagi. Namun,  setelah beberapa minggu, Nabi Daud AS masih melihat mereka berdua. Nabi Daud pun bertanya kepada Izrail: “Bagaimana mereka bisa tetap hidup?” Izrail menjawab “Sepulang bertamu darimu mereka melanjutkan perjalanan untuk bersilaturahmi, maka Allah memanjangkan umurnya 20 tahun lagi”

Berdasarkan hadis dan hikayat di atas, terlihat jelas bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur seseorang. Hal ini dikarenakan silaturahmi sebagai bentuk dari social connection dapat meningkatkan hubungan sosial dan kesehatan mental seseorang yang berkontribusi terhadap healthy aging atau penuaan sehat.

Secara psikologis, seseorang yang sering menjalin silaturahmi kemungkinan besar dapat meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi stres, meningkatkan rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri, membantu mengatasi trauma, serta memberi saran untuk mengubah atau menghindari kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat. Hubungan sosial yang baik juga dapat menjadi sumber dukungan emosional ketika seseorang menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya. Dengan adanya komunikasi dan interaksi yang positif, seseorang akan merasa lebih dihargai, diperhatikan, dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan. Hal ini sejalan dengan temuan riset dalam Jurnal World Psychiatry yang mengatakan bahwa social isolation atau isolasi sosial merupakan independent predictor terhadap kesehatan mental dan fisik, dengan beberapa bukti terkuat terkait dengan angka kematian.

Selain itu, interaksi sosial juga dapat membantu orang yang sedang mengalami depresi dengan cara menjalin hubungan atau berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang baru atau orang yang sudah lama tidak ditemui. Interaksi sosial seperti ini dapat memberikan suasana baru, pengalaman baru, serta sudut pandang yang berbeda terhadap masalah yang sedang dihadapi. Ketika kita bertemu dengan orang baru, otak kita melepaskan hormon-hormon seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin. Dopamin membuat kita merasa senang dan termotivasi, serotonin memberikan perasaan bahagia serta membantu menstabilkan suasana hati, sedangkan oksitosin—yang sering disebut sebagai “hormon cinta” berperan dalam memperkuat ikatan sosial dan rasa kedekatan antar individu.

Proses biologis tersebut menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Sejalan dengan penjelasan sebelumnya mengenai pentingnya silaturahmi dan interaksi sosial bagi kesehatan psikologis, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kurangnya hubungan sosial dapat menimbulkan dampak yang serius bagi kesehatan. Temuan yang melibatkan 2268 peserta dalam Jurnal American Geriatrics Society mengatakan bahwa tingkat keterlibatan sosial yang lebih tinggi dikaitkan dengan angka kematian keseluruhan yang lebih rendah selama 4 tahun.

Selain itu, studi lain juga menunjukkan bahwa rasa kesepian berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dini hingga sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang memiliki hubungan sosial yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa keterasingan sosial tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan fisik seseorang.

Temuan tersebut menegaskan bahwa isolasi sosial dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan dan meningkatkan angka kematian, hampir setara dengan faktor-faktor risiko kesehatan utama lainnya seperti kurangnya aktivitas fisik dan penyakit kronis seperti diabetes. Oleh karena itu, menjalin silaturahmi, membangun hubungan sosial yang positif, serta memperluas jaringan pertemanan menjadi sangat penting, tidak hanya untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis, tetapi juga untuk menjaga kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manfaat silaturahmi yang disebutkan dalam sebuah hadis sahih dan hikayat terkonfirmasi oleh temuan ilmiah yang mengatakan bahwa silaturahmi, sebagai bentuk dari social connection, dapat berkontribusi terhadap longevity atau umur panjang. Hal ini dikarenakan dengan melakukan silaturahmi, seseorang dapat meningkatkan kualitas hubungan sosial dengan orang lain yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap kesehatan mental. 

Oleh: Syauqi Fittaqi, Santri Mansajul Ulum sekaligus Mahasiswa IPMAFA Pati.

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 128 kali

Baca Lainnya

Santri di Pusaran Birokrasi: Mampukah Menjadi Penawar Krisis Integritas? 

17 April 2026 - 13:28 WIB

Brain Rot Usai Liburan: Mengapa Kita Sulit Lepas dari Jebakan Gadget?

3 April 2026 - 15:07 WIB

Pengaruh Motivasi Belajar dan Dampak Brain Rot terhadap Capaian Belajar Santri

6 Maret 2026 - 15:06 WIB

MBG: Solusi Atasi Stunting atau Proyek Pemborosan Anggaran?

20 Februari 2026 - 13:13 WIB

Mengikisnya Makna Norma Sosial

6 Februari 2026 - 14:38 WIB

Indonesia Emas 2045: Antara Visi dan Patologi Birokrasi

23 Januari 2026 - 16:30 WIB

Trending di Kolom Jum'at