Menu

Mode Gelap

Liputan · 20 Jun 2026 16:16 WIB ·

Lestarikan Tradisi Intelektual Pesantren, Santri Se-Kajen Bahas Isu Kontemporer


 Lestarikan Tradisi Intelektual Pesantren, Santri Se-Kajen Bahas Isu Kontemporer Perbesar

Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian instan, Tim Bahtsul Masa’il (TBM) Pondok Pesantren Mansajul Ulum mengambil langkah konkret untuk menjaga kelestarian tradisi intelektual pesantren. Mereka sukses menggelar Forum Musyawarah Wustho Pondok Pesantren Se-Kajen dan Sekitarnya di Aula Komplek 2 PP Mansajul Ulum pada Kamis, 18 Juni 2026. Acara yang mempertemukan puluhan delegasi santri dari berbagai pesantren di kawasan Kajen dan sekitarnya ini dibuka dengan khidmat lewat pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Forum ilmiah ini bertujuan mengkaji ulang problematika sosial kemasyarakatan terkini melalui pisau analisis fikih klasik.

Ketua Pondok PP Mansajul Ulum, Kang Syofiyulloh, dalam sambutannya meminta agar semangat yang dibangun dalam forum musyawarah ini tidak berhenti di ruang diskusi semata. “Semangat dalam musyawarah ini harus kita bawa dalam keseharian dan diaplikasikan dalam belajar sehari-hari,” tegasnya di hadapan para musyawirin.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan pengasuh PP Mansajul Ulum, Ustadz Fackri Bashri, berharap agenda ini menjadi pemantik bagi pesantren-pesantren lain di wilayah Kajen untuk rutin mengadakan forum serupa. Langkah ini dinilai krusial agar nuansa kajian kitab salaf kembali bergairah dan lebih aktif dari sebelumnya.

Memasuki sesi inti yang dipandu oleh moderator, forum secara terstruktur membedah lima persoalan kontemporer yang sedang hangat di masyarakat. Menariknya, studi kasus yang diangkat tidak hanya berkutat pada masalah ibadah mahdhah, tetapi juga menyentuh realitas sosial-politik dan digital.

PP Mansajul Ulum melayangkan dua mosi, yakni keabsahan hukum mengambil logistik di minimarket saat status darurat bencana—berkaca pada peristiwa di Sibolga pada akhir 2024 lalu—serta batasan tanggung jawab pengurus pondok dalam mendisiplinkan santri untuk shalat subuh. Sementara itu, delegasi lain membawa isu mutakhir berupa hukum mengais rezeki lewat fitur live streaming media sosial dengan konten “menghukum diri” demi mendapat saweran (gift), tinjauan hukum Islam terhadap komedi satire politik ala komika Pandji Pragiwaksono, hingga kejelasan status ibadah bagi bayi kembar siam.

Salah satu musyawirin, Muhammad Nurrokhim, mengaku puas dengan dialektika dan perdebatan yang terjadi selama forum. Selain memperluas relasi antar pesantren, ajang ini dinilainya menjadi benteng orisinalitas hukum Islam. “Kegiatan seperti ini mutlak harus dipertahankan, terutama di era di mana mayoritas orang mulai malas dan memilih mencari jawaban masalah fiqhiyah lewat AI,” cetusnya.

Kegiatan resmi ditutup dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin langsung oleh pengasuh PP. Mansajul Ulum, Romo KH. Muhammad Liwauddin Najib, selaku mushohih dalam forum tersebut.

Reporter : Muhammad Hanuun Adrian, Redaktur EM-YU

Tulis Komentar
Artikel ini telah dibaca 121 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menjadi Santri Berilmu dan Berakhlak: Pesan Pengasuh pada Puncak MOP 2026

14 Juli 2026 - 12:59 WIB

Dua Santri Mansajul Ulum Hadiri Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-4 PWNU Jawa Tengah

29 Juni 2026 - 08:04 WIB

Peringati Haul Syekh Ahmad Mutamakkin, Mansajul Ulum Gelar Sholawat Bersama

28 Juni 2026 - 13:52 WIB

Santri Mansajul Ulum Dalami Kajian Turats Kontemporer, Ikuti Bedah Kitab Syarah Ar-Rawanili

26 Juni 2026 - 16:46 WIB

Gunakan Prinsip Keadilan dan Kemanusiaan, Rumusan Tatib Mansajul Ulum Putri 2026 Resmi Disahkan

22 Juni 2026 - 11:20 WIB

Pojok Sastra Perpus As Salamah, Ruang Kreasi Kembangkan Bakat Santri

20 Juni 2026 - 16:20 WIB

Trending di Liputan