Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian instan, Tim Bahtsul Masa’il (TBM) Pondok Pesantren Mansajul Ulum mengambil langkah konkret untuk menjaga kelestarian tradisi intelektual pesantren. Mereka sukses menggelar Forum Musyawarah Wustho Pondok Pesantren Se-Kajen dan Sekitarnya di Aula Komplek 2 PP Mansajul Ulum pada Kamis, 18 Juni 2026. Acara yang mempertemukan puluhan delegasi santri dari berbagai pesantren di kawasan Kajen dan sekitarnya ini dibuka dengan khidmat lewat pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Forum ilmiah ini bertujuan mengkaji ulang problematika sosial kemasyarakatan terkini melalui pisau analisis fikih klasik.
Ketua Pondok PP Mansajul Ulum, Kang Syofiyulloh, dalam sambutannya meminta agar semangat yang dibangun dalam forum musyawarah ini tidak berhenti di ruang diskusi semata. “Semangat dalam musyawarah ini harus kita bawa dalam keseharian dan diaplikasikan dalam belajar sehari-hari,” tegasnya di hadapan para musyawirin.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan pengasuh PP Mansajul Ulum, Ustadz Fackri Bashri, berharap agenda ini menjadi pemantik bagi pesantren-pesantren lain di wilayah Kajen untuk rutin mengadakan forum serupa. Langkah ini dinilai krusial agar nuansa kajian kitab salaf kembali bergairah dan lebih aktif dari sebelumnya.
Memasuki sesi inti yang dipandu oleh moderator, forum secara terstruktur membedah lima persoalan kontemporer yang sedang hangat di masyarakat. Menariknya, studi kasus yang diangkat tidak hanya berkutat pada masalah ibadah mahdhah, tetapi juga menyentuh realitas sosial-politik dan digital.
PP Mansajul Ulum melayangkan dua mosi, yakni keabsahan hukum mengambil logistik di minimarket saat status darurat bencana—berkaca pada peristiwa di Sibolga pada akhir 2024 lalu—serta batasan tanggung jawab pengurus pondok dalam mendisiplinkan santri untuk shalat subuh. Sementara itu, delegasi lain membawa isu mutakhir berupa hukum mengais rezeki lewat fitur live streaming media sosial dengan konten “menghukum diri” demi mendapat saweran (gift), tinjauan hukum Islam terhadap komedi satire politik ala komika Pandji Pragiwaksono, hingga kejelasan status ibadah bagi bayi kembar siam.
Salah satu musyawirin, Muhammad Nurrokhim, mengaku puas dengan dialektika dan perdebatan yang terjadi selama forum. Selain memperluas relasi antar pesantren, ajang ini dinilainya menjadi benteng orisinalitas hukum Islam. “Kegiatan seperti ini mutlak harus dipertahankan, terutama di era di mana mayoritas orang mulai malas dan memilih mencari jawaban masalah fiqhiyah lewat AI,” cetusnya.

Kegiatan resmi ditutup dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin langsung oleh pengasuh PP. Mansajul Ulum, Romo KH. Muhammad Liwauddin Najib, selaku mushohih dalam forum tersebut.
Reporter : Muhammad Hanuun Adrian, Redaktur EM-YU










